cerita ciung wanara dalam bahasa sunda
adalahcerita – cerita yang terdapat dalam tradisi lisan masyarakat Sunda. Diantara cerita-cerita pantun ada yang dianggap keramat oleh juru pantun sehingga hanya beberapa orang yang berani menceritakannya. Cerita pantun Lutung Kasarung, Mundinglaya di Kusumah, Ciung Wanara dan Nyai Pohaci Sanghiang Sri adalah
Situsini bercerita tentang Ciung Wanara yang berhubungan dengan Kerajaan Galuh. Cerita ini banyak mengandung kisah kepahlawanan yang luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara. M. Hubungan Kerajaan Sunda Dengan Kerajaan Lain 1. Singasari
CeritaLegenda, Villa dan Hotel di Jalan Ciung Wanara Bandung. On Jul 24, 2017. Ciung Wanara Bandung – Indonesia yang mempunyai banyak sekali suku adat dan budaya, memiliki bahasan cerita rakyat yang teramat banyak. Dari satu daerah dalam satu desa saja, logat bahasa dan kebiasaan keseharian sudah berbeda. Hal-hal seperti inilah yang
danpada cerita tersebut kabayan menyamar jadi haji.. Ciung Wanara. Cerita rakyat dari jawa barat Ciung Wanara hampir mirip dengan cerita rakyat dari jawa timur yaitu cindelaras. Asal usulnya sih kerajaan Galuh yang terletak di jawa barat ini. Arti dari Girilawungan adalah berhadap hadapan yang di adopsi dari bahasa sunda “Ngalawung”.
Dalambahasa Sunda kata padang berarti terang dan terbuka. Sebutan Gunung Padang kita temukan antara lain dalam teks cerita Ciung Wanara yang disunting oleh C.M. Pleyte. Cerita ini mengisahkan kerajaan Galih Pakuan dengan rajanya Sang Permana di Kusumah yang beristri dua: Pohaci Naganingrum (istri pertama) dan Dewi Pangrenyep (istri kedua
Danke Dass Wir Dich Kennenlernen Durften. Dongeng Ciung Wanara adalah salah satu cerita rakyat Sunda yang terkenal di seluruh Nusantara. Legenda ini menjadi salah satu cikal bakal terpisahnya Kerajaan Galuh menjadi Pajajaran dan Majapahit dengan perbatasan Sungai Cipamali yang nantinya menjadi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jejak peninggalan Kerajaan ini masih ada di antara hutan lindung seluas 25,5 hektar dan dilestarikan sebagai cagar budaya di Situs Karangkamulyan di Wahana Wisata Ciung Wanara di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Walau ada banyak versi dongeng Ciung Wanara, namun jalan ceritanya hampir sama. Penasaran cerita lengkapnya? Berikut legenda Ciung Wanara yang benar! Artikel Terkait Ke Ciamis Yuk!! 7 Objek Wisata Di Ciamis Murah Meriah Buat Keluarga Dongeng Ciung Wanara Dimulai Dari Perginya Sang Raja untuk Bertapa Dahulu kala berdiri Kerajaan Galuh yang merupakan sebuah kerajaan besar di Pulau Jawa, karena wilayahnya dimulai dari Hujung Kulon di ujung Barat Jawa, hingga ke Hujung Galuh “Ujung Galuh” yang merupakan muara dari Sungai Brantas di dekat Surabaya. Kerajaan Galuh diperintah oleh Raja Prabu Permana Di Kusumah yang bijak. Dia memiliki dua orang ratu, yaitu Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum. Suatu ketika, sang raja memutuskan untuk bertapa sementara waktu dan memanggil menteri Aria Kebonan untuk sementara menggantikan posisinya. Dengan syarat dia tidak boleh menggauli istri-istri raja selama menjadi raja sementara. Sang menteri bersorak girang dan menyetujui syarat tersebut. Raja mengubah Aria Kebonan menjadi sosoknya dan kemudian raja pergi meditasi dalam jangka waktu yang sangat lama. Aria Kebonan akhirnya mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Yang tahu kalau Aria Kebonan bukan raja asli adalah Uwa Batara Lengser, namun karena tidak punya bukti kuat dia tidak bisa melakukan apa-apa. Kedua Ratu Hamil! Ilustrasi. Tidak berapa lama sepeninggalan sang raja yang bertapa, kedua ratu hamil. Prabu Barma Wijaya sontak kaget dan memanggil seorang pertapa bernama Ajar Sukaresi yang memastikan kalau kedua ratu memang hamil. Berarti ini adalah anak sang Raja Prabu Permana Di Kusumah, karena Prabu Barma tidak pernah menyentuh istri raja. Si pertapa berkata kalau anak kedua ratu adalah laki-laki yang salah satunya akan melengserkan Prabu Barma Wijaya. Prabu Barma tidak terima dan menghunuskan keris ke Ajar Sukaresi, dan tubuh si pertapa dibuang ke hutan yang kemudian berubah menjadi seekor naga bernama Nagawiru. Tiba Waktu Persalinan Kedua Ratu Ilustrasi. Yang pertama melahirkan adalah Dewi Pangrenyep dan dia memberi nama putranya Hariang Banga. Lalu Prabu Barma Wijaya mengunjungi Dewi Naganingrum dan tiba-tiba keajaiban terjadi. Janin dalam kandungan Dewi Naganingrum yang belum lahir bisa berbicara dan mengatakan kalau Barma Wijaya melupakan banyak janjinya dengan melakukan kekejaman. Prabu Barma Wijaya kaget dan meminta Dewi Naganingrum segera pergi dari istana. Tapi karena sudah dekat waktu melahirkan, pengusiran itu pun diurungkan. Tiba waktu persalinan, Dewi Naganingrum ditutup matanya oleh Dewi Pangrenyep dengan lilin agar tidak melihat banyak darah. Namun dia menukar bayi Dewi Naganingrum dengan seekor anjing, sedangkan sang bayi dimasukkan ke dalam keranjang dan dibuang ke Sungai Citanduy. Dewi Naganingrum pun kaget ketika melihat anaknya yang berubah menjadi anjing, dia sangat sedih belum melihat bayinya sama sekali. Prabu Barma Wijaya pun mengusir Dewi Naganingrum dan memerintahkan Ki Lengser untuk membunuhnya. Uwa Batara Lengser pun tidak tega melakukan hal itu, di hutan dia membuatkan sebuah gubuk agar sang ratu Dewi Naganingrum bisa beristirahat. Dia meminta ratu agar jangan bersedih dan bersembunyi dulu di dalam hutan agar tidak dibunuh Prabu Barma Wijaya. Dia pulang dengan membawa pakaian ratu yang dilumuri dengan darah binatang sebagai bukti sudah membunuh. Ciung Wanara Ditemukan Sepasang Suami Istri yang Belum Punya Anak Di tepian Sungai Citanduy Desa Geger Sunten, bayi yang dibuang itu ditemukan oleh pasangan suami istri lanjut usia yang sedang menangkap ikan. Keduanya sangat bahagia dan membawanya pulang ke rumah. Saat mulai besar, anak itu bertanya tentang monyet dan burung yang dilihatnya di hutan. Akhirnya si anak dinamakan Ciung Wanara yang berarti Ciung artinya burung dan Wanara artinya monyet. Dongeng Ciung Wanara yang berkisah tentang Pemuda Gagah dan Tampan Ciung Wanara tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Bahkan menjadi idola di desanya, namun karena merasa berbeda dengan wajah suami istri yang mengasuhnya sejak bayi, dia bertanya dengan sopan asal usulnya. Suami istri tersebut akhirnya menceritakan kalau dia adalah bayi yang ditemukan di tepian sungai Citanduy dan bukan berasal dari desa tersebut. Kemungkinan arus sungai yang membawanya ke desa Geger berasal dari daerah Galuh. Ciung Wanara ingin mencari keberadaan orang tuanya dan hendak berangkat ke pusat kerajaan Galuh. Sebelum berangkat, suami istri tersebut memberinya sebuah telur dan memintanya menemukan unggas agar bisa menetaskannya. Namun dalam perjalan dia tidak berjumpa dengan unggas malah bertemu dengan Nagawiru yang tidak lain adalah jelmaan Ajar Sukaresi sang pertama. Nagawiru pun mengerami dan menetaskannya sehingga ayam tersebut tumbuh dengan cepat nan kuat. Lomba Sabung Ayam Berhadiah Kekuasaan Saat di kota, ternyata masyarakatnya suka dengan kegiatan sabung ayam. Melihat ayamnya sehat dan kuat, Ciung Wanara mengikutkan perlombaan sabung ayam berkali-kali. Dan hebatnya, ayam Ciung Wanara selalu menang. Di kota dia bertemu dengan tukang pandai besi yang akhirnya mengangkatnya menjadi anak. Prabu Barma Wijaya memang terkenal suka sabung ayam dan memiliki ayam jagoan bernama Si Jeling. Tidak heran kalau masyarakatnya juga senang dengan kegiatan sabung ayam. Biasanya ayam sang raja tidak pernah kalah, namun karena mendengar kalau ada pemuda yang ayamnya selalu menang dia pun penasaran dan ingin sabung ayam dengannya. Pemuda itu tidak lain adalah Ciung Wanara. Uwa Batara Lengser mencari Ciung Wanara karena Prabu Barma Wijaya memintanya untuk menyampaikan kalau raja ingin adu sabung ayam dengan ayam Ciung Wanara. Saat itu Uwa Batara Lengser langsung tahu kalau dia adalah bayi Dewi Naganingrum yang sudah menjadi pemuda dewasa tampan dan berwibawa. Uwa Batara Lengser pun menceritakan asal usul pemuda tersebut, Ciung Wanara sangat sedih dan ingin membalas perbuatan Prabu Barma Wijaya. Dia pun menyanggupi tantangan sabung ayam Prabu Barma Wijaya dan meminta hadiah apabila ayamnya menang maka separuh kerajaan harus diberikan padanya. Prabu Barma Wijaya menyanggupi permintaan tersebut. Dan tibalah waktu perlombaan, ternyata si Jeling kalah sama ayam Ciung Wanara. Prabu Barma Wijaya pun menepati janjinya untuk memberikan setengah kerajaan padanya. Kisah Balas Dendam dalam Dongeng Ciung Wanara Ciung Wanara ingin menghukum Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep. Karena itu dia mengundang keduanya ke kerajaan barunya dan melihat sel penjara yang baru dibangunnya. Ketika mereka berada di dalam penjara, Ciung Wanara langsung menguncinya dari luar. Dan dia akhirnya membongkar semua kejahatan Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep kepada masyarakat. Hariang Banga, putera Dewi Pangrenyep, sangat terkejut dengan penangkapan ibunya. Akhirnya dia dan tentara pengikut setianya menyerang Ciung Wanara. Pertempuran sengit pun tidak terelakkan lagi. Apalagi mereka berdua adalah pangeran yang kuat dan memiliki keahlian berperang yang tinggi. Pertempuran ini berlangsung sangat lama karena keduanya sama-sama kuat. Sang Raja Kembali Dari Pertapaan Ketika sedang bertempur di daerah sungai, Ciung Wanara mendorong tubuh Hariang Banga ke seberang sungai. Namun tiba-tiba muncul Raja Prabu Permana Di Kusumah didampingi oleh Ratu Dewi Naganingrum dan Uwa Batara lengser. Sang raja berteriak memarahi kedua anaknya itu karena pertempuran adalah hal yang pamali apalagi berperang dengan saudara sendiri. Agar adil, sang raja yang kembali dari bertapa tersebut membagi kedua wilayah kerajaan Galuh. Ciung Wanara akan memimpin kerajaan Galuh dan Hariang Banga mendirikan kerajaan baru di timur sungai Brebes yang sekarang menjadi Sungai Pamali. Pamali dalam bahasa Sunda artinya adalah tabu atau dilarang. Dan karena itulah muncul Sungai Cipamali atau Sungai Pamali sebagai perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hariang Banga yang pindah ke timur menjadi Jaka Susuruh dan mendirikan kerajaan Jawa yang merupakan cikal bakal Majapahit yang terkenal. Sedangkan Ciung Wanara menjadi raja Sunda di Kerajaan Galuh. Sekarang sudah tahu ya Parents cerita lengkap tentang dongeng Ciung Wanara sejarah Sunda yang melegenda. Ternyata memang harus mengajarkan pada anak untuk selalu berbuat baik dan jangan lemah karena kekuasaan. Jangan lupa untuk menceritakan legenda ini pada anak ya Parents, agar anak tahu dongeng Ciung Wanara! Baca Juga Salah Satu Cerita Rakyat Jawa Barat Terkenal, Inilah Dongeng Terbentuknya Situ Bagendit Ajarkan Pentingnya Kecerdasan kepada Anak dari Dongeng "Kambing, Beruang, dan Harimau" Dongeng Sebelum Tidur, Kumpulan Cerita Sarat Nilai Moral Untuk Anak Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.
Dongeng Bahasa Sunda CIUNG WANARAKacaturkeun di Karajaan Galuh. Anu ngaheuyeuk dayeuh waktu harita teh nyaeta Prabu Barma Wijaya gaduh permaisuri hiji Dewi Naga Ningrum anu ka dua Dewi Pangrenyep. Harita duanana keur kakandungan. Barang nepi kana waktosna, Dewi Pangrenyep ngalahirkeun budak lalaki kasep jeung mulus, dingaranan Hariang Banga. Tilu bulan tiharita Dewi Naga Ningrum ogé ngalahirkeun, diparajian ku Dewi Pangrenyep, orokna lalaki deuih. Tapi ku Dewi Pangrenyep diganti ku anak anjing, nepi kasaolah-olah Dewi Naga Ningrum téh ngalahirkeun anak anjing. Ari orok nu saestuna diasupkeun kana kandaga dibarengan ku endog hayam sahiji, terus dipalidkeun ka walungan kaayaan kitu, sang Prabu kacida ambekna ka Dewi Naga Ningrum. Terus nitah ki Lengser supaya maehan Dewi Naga Ningrum, lantaran dianggap geus ngawiwirang raja pedah ngalahirkeun anak anjing. Dewi Naga Ningrum dibawa ku Lengser, tapi heunteu dipaéhan. Ku Lengser diselongkeun ka leuweung nu jauh ti Dayeuh kandaga anu dipalidkeun téa, nyangsang dina badodon tataheunan lauk aki jeung nini Balangantrang. Barang aki jeung nini Balangantrang neang tataheunana, kacida bungahna meunang kandaga téh. Leuwih – leuwih sanggeus nyaho yén dijerona aya orok lalaki anu mulus tur kasep. Gancang budak téh dirawu dipangku, dibawa kalemburna nyaeta lembur Geger Sunten sarta diaku budak téh geus gede. Tapi masih keneh can dingaranan. Hiji poé budak téh milu ka leuweung jeung Aki balangantrang. Nénjo manuk nu alus rupana. Nanyakeun ka aki Balangantrang. “Aki ari itu sato naon?” “Eta téh ngarana manuk Ciung Jang”.Tuluy budak téh nénjo monyet. “Ari nu itu naon aki”? Dijawab deui ku si aki. “Eta téh ngarana Wanara”. Budak téh resepeun kana éta ngaran, tuluy baé ménta supaya manehna dingaranan Ciung Wanara. “Mun kitu mah ngaran kuring teh Ciung Wanara bae atuh Ki !”. Aki jeung nini Balangantrang Ciung Wanara geus jadi nu kasep sarta gagah pilih tanding. Ari endogna téa disileungleuman ku Naga Wiru ti Gunung Padang, nepi ka megarna. Ayeuna geus jadi hayam jago anu alus tur hiji poé, Ciung Wanara amitan ka aki jeung nini Balangantrang sabab rék nepungan raja di Galuh. Inditna bari ngelek hayam jago téa. Barang nepi ka alun-alun amprok jeung Patih Pura Wesi katut Patih Pura Gading. Nénjo Ciung Wanara mawa hayam jago, éta dua patih ngajak ngadu hayam. Ku Ciung Wanara dilayanan prung waé hayam téh diadukeun. Hayam patih éléh nepi ka paéhna. Patih dua ngambek, barang rék ngarontok, Ciung Wanara ngaleungit. Dua patih buru-buru laporan ka Ciung Wanara papanggih jeung Lengser. Terus milu ka karaton. Nepi ka karaton, Ciung Wanara ngajak ngadu hayam ka raja. Duanana make tandon. Lamun hayam Ciung Wanara éléh tandona nyawa Ciung Wanara. Sabalikna lamun raja nu éléh tandona nagara sabeulah, sarta Ciung Wanara baris dijenengkeun jadi raja tur diaku baé hayam téh diadukeun. Lila-lila hayam Ciung Wanara téh kadeseh, terus kapaehan. Ku Ciung Wanara dibawa ka sisi cibarani, dimandian nepi ka elingna. Gapruk diadukeun deui. Keur kitu dating naga wiru ti gunung padang, nyurup kana hayam Ciung Wanara. Sanggeus kasurupan naga wiru, hayam Ciung Wanara unggul, hayam raja éléh nepi ka jeung jangjina, Ciung Wanara dibéré nagara sabeulah, beulah kulon. Dijenengkeun raja sarta diaku anak ku Prabu Barma Wijaya Kusumah, ari nagara nu sabeulah deui, beulah wetan, dibikeun ka Hariang kabinekasan ki lengser, Ciung Wanara bisa patepung deui jeung indungna nyaéta Dewi Naga Ningrum. Lila-lila réka perdaya Dewi Pangrenyep téh kanyahoan ku Ciung Wanara. Saterusna atuh Dewi Pangrenyep téh ditangkep sarta dipanjarakeun dina panjara Banga kacida ambekna basa nyahoeun indungna geus dipanjara ku Ciung Wanara. Dee….r atuh tarung. Taya nu éléh sabab sarua saktina. Tapi lila-lila Hariang Banga téh kadeseh ku Ciung Wanara. Hariang Banga dibalangkeun ka wetaneun Cipamali. Tah tiharita kaayaan Galuh jadi dua bagian téh. Kuloneun Cipamali dicangking ku Ciung Wanara. Ari wetaneunana dicangking ku Hariang Banga.
67% found this document useful 3 votes22K views8 pagesOriginal Title[TUGAS] Bahasa Sunda - Legenda Ciung WanaraCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?67% found this document useful 3 votes22K views8 pagesTUGAS Bahasa Sunda - Legenda Ciung WanaraOriginal Title[TUGAS] Bahasa Sunda - Legenda Ciung WanaraJump to Page You are on page 1of 8 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 7 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Kacaturkeun di Karajaan Galuh. Anu ngaheuyeuk dayeuh waktu harita téh nya éta Prabu Barma Wijaya kusumah. Anjeunna boga permaisuri dua. Nu kahiji Déwi Naganingrum, ari nu kadua Déwi Pangrenyep. Harita duanana keur kakandungan. Barang nepi kana waktuna, Déwi Pangrenyep ngalahirkeun. Budakna lalaki kasép jeung mulus, dingaranan Hariang Banga. Tilu bulan ti harita, Déwi Naganingrum ogé ngalahirkeun, diparajian ku Déwi Pangrenyep. Orokna lalaki deuih. Tapi ku Déwi Pangrenyep diganti ku anak anjing, nepi ka saolah-olah Déwi Naganingrum téh ngalahirkeun anak anjing. Ari orok nu saéstuna diasupkeun kana kandaga dibarengan ku endog hayam sahiji, terus dipalidkeun ka walungan Citanduy. Mireungeuh kaayaan kitu, Sang Prabu kacida ambekna ka Déwi Naganingrum. Terus nitah Ki Léngsér supaya maéhan Déwi Naganingrum, lantaran dianggap geus ngawiwirang raja pédah ngalahirkeun anak anjing. Déwi Naganingrum dibawa ku Léngsér, tapi henteu dipaéhan. Ku Léngsér disélongkeun ka leuweung anu jauh ti dayeuh Galuh. Ari kandaga anu dipalidkeun téa, nyangsang dina badodon tataheunan lauk Aki jeung Nini Balangantrang. Barang Aki jeung Nini Balangantrang néang tataheunanana kacida bungahna meunang kandaga téh. Leuwih-leuwih sanggeus nyaho yén di jerona aya orok alaki anu mulus tur kasép. Gancangna budak téh dirawu dipangku, dibawa ka lemburna nya éta Lembur Geger Sunten, sarta diaku anak. Kocapkeun budak téh geus gedé. Tapi masih kénéh can dingaranan. Hiji poé budak téh milu ka leuweung jeung Aki Balangantrang. Nénjo manuk nu alus rupana, nanyakeun ka Aki Balangantrang ngaranna éta manuk. Dijawab ku Aki éta téh ngaranna manuk ciung. Tuluy nénjo monyét. Nanyakeun deui ngaranna. Dijawab deui ku Si Aki, éta téh ngaranna wanara. Budak téh resepeun kana éta ngaran, tuluy baé ménta supaya manéhna dingaranan Ciung Wanara. Aki jeung Nini Balangantrang satuju. Ayeuna Ciung Wanara geus jadi pamuda anu kasép sarta gagah pilih tanding. Ari endogna téa, disileungleuman ku Nagawiru ti Gunung Padang, nepi ka megarna. Ayeuna geus jadi hayam jago anu alus tur pikalucueun. Dina hiji poé, Ciung Wanara amitan ka Aki jeung Nini Balangantrang, sabab rék nepungan raja di Galuh. Inditna bari ngélék hayam jago téa. Barang nepi ka alun-alun amprok jeung Patih Purawesi katut Patih Puragading. Nénjo Ciung Wanara mawa hayam jago, éta dua patih ngajak ngadu hayam. Ku Ciung Wanara dilayanan. Pruk baé hayam téh diadukeun. Hayam patih éléh nepi ka paéhna. Patih dua ngambek, barang rék ngarontok, Ciung Wanara ngaleungit. Dua patih buru-buru laporan ka raja. Ari Ciung Wanara papanggih jeung Léngsér. Terus milu ka karaton. Nepi ka karaton, Ciung Wanara ngajak ngadu hayam ka raja. Duanana maké tandon. Lamun hayam Ciung Wanara éléh, tandonna nyawa Ciung Wanara. Sabalikna lamun hayam raja nu éléh, tandonna nagara sabeulah, sarta Ciung Wanara baris dijenengkeun raja tur diaku anak. Gapruk baé atuh hayam téh diadukeun. Lila-lila hayam Ciung Wanara téh kadéséh, terus kapaéhan. Ku Ciung Wanara dibawa ka sisi Cibarani, dimandian nepi ka élingna. Gapruk diadukeun deui. Keur kitu datang Nagawiru ti Gunung Padang, nyurup kana hayam Ciung Wanara. Sanggeus kasurupan Nagawiru, hayam Ciung Wanara unggul. Hayam raja éléh nepi ka paéhna. Luyu jeung jangjina Ciung Wanara dibéré nagara sabeulah, beulah kulon. Dijenengkeun raja sarta diaku anak ku Prabu Barma Wijaya Kusumah. Ari nagara anu sabeulah deui, beulah wétan dibikeun ka Hariang Banga. Ku kabinékasan Ki Léngsér, Ciung Wanara bisa patepung deui jeung indungna nya éta Déwi Naganingrum. Lila-lila réka perdaya Déwi Pangrenyep téh kanyahoan ku Ciung Wanara. Saterusna atuh Déwi Pangrenyep téh ditangkep sarta dipanjarakeun dina panjara beusi. Hariang Banga kacida ambekna basa nyahoeun yén indungna geus dipanjara ku Ciung Wanara. Der atuh tarung. Taya nu éléh sabab sarua saktina. Tapi lila-lila mah Hariang Banga téh kadéséh ku Ciung Wanara. Hariang Banga dibalangkeun ka wétaneun Cipamali. Tah, harita kaayaan Galuh jadi dua bagian téh. Kuloneun Cipamali dicangking ku Ciung Wanara. Ari wétaneunana dicangking ku Hariang Banga. Tina Pangajaran Sastra Sunda, karya Drs. Budi Rahayu Tamsyah Kantos dimuat di lapak
Ciung Wanara aksara Sunda ᮎᮤᮅᮀ ᮝᮔᮛ adalah legenda di kalangan orang Sunda di Indonesia. Cerita rakyat ini menceritakan legenda Kerajaan Sunda Galuh, asal muasal nama Sungai Pemali serta menggambarkan hubungan budaya antara orang Sunda dan Jawa yang tinggal di bagian barat provinsi Jawa Tengah.[1][2] Ciung WanaraPrabu SurotamaRaja Kerajaan GaluhBerkuasa739 – 783PendahuluTamperan BarmawijayaPenerusGuruminda Sang MinisriInformasi pribadiKelahiranManarah[butuh rujukan]718Kematian798Nama takhtaPrabu Jayaprakosa Mandaleswara SalakabuanaAyahPermana DikusumahIbuNaganingrumPasanganKancanawangi Sumber Cerita ini berasal dari tradisi cerita lisan Sunda yang disebut Pantun Sunda,[3] yang kemudian dituliskan ke dalam buku yang ditulis oleh beberapa penulis Sunda, baik dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia.[4] Ringkasan Turunnya sang raja Dahulu berdirilah sebuah kerajaan besar di pulau Jawa yang disebut Kerajaan Galuh, ibu kotanya terletak di Galuh dekat Ciamis sekarang. Dipercaya bahwa pada saat itu kerajaan Galuh membentang dari Hujung Kulon, ujung Barat Jawa, sampai ke Hujung Galuh "Ujung Galuh", yang saat ini adalah muara dari Sungai Brantas di dekat Surabaya sekarang. Kerajaan ini diperintah oleh Raja Prabu Permana Di Kusumah. Setelah memerintah dalam waktu yang lama Raja memutuskan untuk menjadi seorang pertapa dan karena itu ia memanggil menteri Aria Kebonan ke istana. Selain itu, Aria Kebonan juga telah datang kepada raja untuk membawa laporan tentang kerajaan. Sementara ia menunggu di depan pendapa, ia melihat pelayan sibuk mondar-mandir, mengatur segalanya untuk raja. Menteri itu berpikir betapa senangnya akan menjadi raja. Setiap perintah dipatuhi, setiap keinginan terpenuhi. Karena itu ia pun ingin menjadi raja. Saat ia sedang melamun di sana, raja memanggilnya. "Aria Kebonan, apakah benar bahwa Engkau ingin menjadi raja?" Raja tahu itu karena ia diberkahi dengan kekuatan supranatural. "Tidak, Yang Mulia, aku tidak akan bisa." "Jangan berbohong, Aria Kebonan, aku tahu itu." "Maaf, Yang Mulia, Saya baru saja memikirkannya." "Yah, Aku akan membuat engkau menjadi raja Selama Aku pergi untuk bermeditasi, Engkau akan menjadi raja dan memerintah dengan benar. Engkau tidak akan memperlakukan tidur dengan kedua istriku, Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum sebagai istrimu." "Baiklah, Yang Mulia." "Aku akan mengubah penampilanmu menjadi seorang pria tampan. Nama Anda akan Prabu Barma Wijaya. Beritahulah pada orang-orang bahwa raja telah menjadi muda dan Aku sendiri akan pergi ke suatu tempat rahasia. Dengan demikian engkau akan menjadi raja!" Pada saat penampilan Aria Kebonan menyerupai Prabu Permana di Kusumah itu, tetapi tampak sepuluh tahun lebih muda. Orang percaya pengumuman bahwa ia adalah Raja Prabu Permana Di Kusumah yang telah menjadi sepuluh tahun lebih muda dan mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Hanya satu orang tidak percaya ceritanya. Ia adalah Uwa Batara lengser yang mengetahui perjanjian antara raja dan menteri tersebut. Prabu Barma Wijaya menjadi bangga dan mempermalukan Uwa Batara lengser yang tidak dapat melakukan apa-apa. Dia juga memperlakukan kedua ratu dengan kasar. Keduanya menghindarinya, kecuali di depan umum ketika mereka berperilaku seolah-olah mereka istri Prabu Barma Wijaya. Kelahiran dua pangeran Suatu malam kedua ratu bermimpi bahwa bulan jatuh di atas mereka. Mereka melaporkan hal itu kepada raja yang membuatnya ketakutan, karena mimpi tersebut biasanya peringatan bagi wanita yang akan hamil. Hal ini tidak mungkin karena ia tidak bersalah memperlakukan kedua ratu sebagai istri-istrinya. Uwa Batara lengser muncul dan mengusulkan untuk mengundang seorang pertapa baru, yang disebut Ajar Sukaresi - yang tidak lain adalah Raja Prabu Permana Di Kusumah - untuk menjelaskan mimpi yang aneh tersebut. Prabu Barma Wijaya setuju, dan begitu pertapa tiba di istana ia ditanya oleh raja tentang arti mimpi itu. "Kedua ratu mengharapkan seorang anak, Yang Mulia." Meskipun terkejut dengan jawabannya, Prabu Barma Wijaya masih bisa mengendalikan diri. Ingin tahu seberapa jauh pertapa berani berbohong kepada dia, dia mengajukan pertanyaan lain. "Apakah mereka akan anak perempuan atau anak laki-laki?" "Keduanya anak laki-laki, Yang Mulia." Pada hal ini raja tidak bisa lagi menahan diri, mengambil kerisnya dan menusuk Ajar Sukaresi agar dia mati namun Dia gagal. Keris itu bengkok. "Apakah Raja berkehendak aku mati? Bila begitu, saya akan mati." Kemudian pertapa itu jatuh. Raja menendang mayatnya begitu hebat sehingga terlempar ke dalam hutan di mana ia berubah menjadi seekor naga besar, yang disebut Nagawiru. Di keraton, sesuatu yang aneh terjadi. Kedua ratu memang hamil. Setelah beberapa waktu Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra yang bernama Hariang Banga. Suatu hari ketika Prabu Barma Wijaya mengunjungi Dewi Naganingrum, secara ajaib janin dalam kandungan Naganingrum yang belum lahir tersebut berbicara "Barma Wijaya, Engkau telah melupakan banyak janjimu. Semakin banyak Anda melakukan hal-hal kejam, kekuasaan Anda akan semakin pendek.." Rencana jahat Peristiwa aneh janin yang dapat berbicara tersebut membuat Raja sangat marah dan takut terhadap ancaman janin tersebut. Dia ingin menyingkirkan janin itu dan segera menemukan cara untuk melakukannya. Dia meminta bantuan Dewi Pangrenyep untuk dapat terlepas dari bayi Dewi Naganingrum yang akan lahir sebagai bajingan menurut impiannya. Dia tidak akan cocok untuk menjadi penguasa negeri ini bersama-sama dengan Hariang Banga, putra Dewi Pangrenyep. Ratu percaya hal tersebut dan setuju, tetapi apa yang harus dilakukan? "Kita akan menukar bayi tersebut dengan anjing dan melemparkannya ke sungai Citanduy." Sebelum melahirkan, Dewi Pangrenyep menghimbau Dewi Naganingrum untuk menutupi matanya dengan malam lilin yang biasanya digunakan untuk membatik. Dia berpendapat bahwa perlakuan ini adalah untuk menghindarkan ibu yang sedang melahirkan agar tidak melihat terlalu banyak darah yang mungkin dapat membuat dia pingsan. Naganingrum setuju dan Pangrenyep pun menutup mata Dewi Naganingrum dengan lilin, berpura-pura membantu ratu malang tersebut. Naganingrum tidak menyadari apa yang terjadi, bayi yang baru lahir itu dimasukkan ke dalam keranjang dan dilemparkan ke dalam Sungai Citanduy, setelah ditukar dengan bayi anjing yang dibaringkan di pangkuan sang ibu yang tidak curiga akan perbuatan jahat tersebut. Ratu Naganingrum segera menyadari bahwa ia tengah menggendong seekor bayi anjing, ia sangat terkejut dan jatuh sedih. Kedua pelaku kejahatan berusaha menyingkirkan Dewi Naganingrum dari istana dengan mengatakan kebohongan kepada rakyat, tetapi tidak ada yang percaya kepada mereka. Bahkan Uwa Batara lengser tak dapat melakukan apa-apa karena Raja serta Ratu Dewi Pangrenyep sangat berkuasa. Barma Wijaya bahkan memerintahkan hukuman mati atas Dewi Naganingrum karena dia telah melahirkan seekor anjing, yang dianggap sebagai kutukan dari para dewa dan aib bagi kerajaan. Uwa Batara lengser mendapat perintah untuk melaksanakan eksekusi tersebut. Dia membawa ratu yang malang ke hutan, namun dia tak sampai hati membunuhnya, ia bahkan membangunkan sebuah gubuk yang baik untuknya. Untuk meyakinkan Raja dan Ratu Pangrenyep bahwa ia telah melakukan perintah mereka, ia menunjukkan kepada mereka pakaian Dewi Naganingrum yang berlumuran darah. Sabung ayam Di desa Geger Sunten, tepian sungai Citanduy, hiduplah sepasang suami istri tua yang biasa memasang bubu keramba perangkap ikan yang terbuat dari bambu di sungai untuk menangkap ikan. Suatu pagi mereka pergi ke sungai untuk mengambil ikan yang terperangkap di dalam bubu, dan sangat terkejut bukannya menemukan ikan melainkan keranjang yang tersangkut pada bubu tersebut. Setelah membukanya, mereka menemukan bayi yang menggemaskan. Mereka membawa pulang bayi tersebut, merawatnya dan menyayanginya seperti anak mereka sendiri. Dengan berlalunya waktu bayi tumbuh menjadi seorang pemuda rupawan yang menemani berburu orang tua dalam hutan. Suatu hari mereka melihat seekor burung dan monyet. "Burung dan monyet apakah itu, Ayah?" "Burung itu disebut Ciung dan monyet itu adalah Wanara, anakku." "Kalau begitu, panggillah aku Ciung Wanara." Orang tua itu menyetujui karena arti kedua kata tersebut cocok dengan karakter anak itu. Suatu hari ia bertanya pada orang tuanya mengapa dia berbeda dengan anak laki-laki lain dari desa tersebut dan mengapa mereka sangat menghormatinya. Kemudian orang tua itu mengatakan kepadanya bahwa ia telah terbawa arus sungai ke desat tersebut dalam sebuah keranjang dan bukan anak dari desa tersebut. "Orangtuamu pasti bangsawan dari Galuh." "Kalau begitu, aku harus pergi ke sana untuk mencari orang tua kandungku, Ayah." "Itu benar, tetapi kamu harus pergi dengan seorang teman. Di keranjang itu ada telur. Ambillah, pergilah ke hutan dan carilah unggas untuk menetaskan telur itu." Ciung Wanara mengambil telur itu, pergi ke hutan seperti yang diperintahkan oleh sang orang tua, tetapi ia tidak dapat menemukan unggas. Ia menemukan Nagawiru yang baik, kepadanya ia meminta untuk menetaskan telur. Dia meletakkan telur di bawah naga itu dan tak lama setelah menetas, anak ayam tumbuh dengan cepat. Ciung Wanara memasukkannya ke dalam keranjang, meninggalkan orang tua dan istrinya dan memulai perjalanannya ke Galuh. Di ibu kota Galuh, sabung ayam adalah sebuah acara olahraga besar, baik raja dan rakyatnya menyukainya. Raja Barma Wijaya memiliki ayam jago yang besar dan tak terkalahkan bernama Si Jeling. Dalam kesombongannya, ia menyatakan bahwa ia akan mengabulkan keinginan apapun kepada pemilik ayam yang bisa mengalahkan ayam juaranya. Saat tiba, anak ayam Ciung Wanara sudah tumbuh menjadi ayam petarung yang kuat. Sementara Ciung Wanara sedang mencari pemilik keranjang, ia ikut ambil bagian dalam turnamen adu ayam kerajaan. Ayamnya tidak pernah kalah. Kabar tentang anak muda yang ayam jantannya selalu menang di sabung ayam akhirnya mencapai telinga Prabu Barma Wijaya yang kemudian memerintahkan Uwa Batara lengser untuk menemukan pemuda itu. Orang tua itu segera menyadari bahwa pemuda pemilik ayam itu adalah putra Dewi Naganingrum yang telah lama hilang, terutama ketika Ciung Wanara menunjukkan padanya keranjang di mana ia telah dihanyutkan ke sungai. Uwa Batara Lengser mengatakan pada Ciung Wanara bahwa raja telah memerintahkan hal tersebut selain menuduh ibunya telah melahirkan seekor anjing. "Jika ayam kamu menang melawan ayam raja, mintalah saja kepadanya setengah dari kerajaan sebagai hadiah kemenangan kamu." Keesokan paginya Ciung Wanara muncul di depan Prabu Barma Wijaya dan menceritakan apa yang telah diusulkan Lengser. Raja setuju karena dia yakin akan kemenangan ayam jantannya yang disebut Si Jeling. Si Jeling sedikit lebih besar dari ayam jago Ciung Wanara, namun ayam Ciung Wanara lebih kuat karena dierami oleh Naga Nagawiru. Dalam pertarungan berdarah ini, ayam sang Raja kehilangan nyawanya dan raja terpaksa memenuhi janjinya untuk memberikan Ciung Wanara setengah dari kerajaannya. Perang saudara Ciung Wanara menjadi raja dari setengah kerajaan dan membangun penjara besi yang dibangun untuk mengurung orang-orang jahat. Ciung Wanara merencanakan siasat untuk menghukum Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep. Suatu hari Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep diundang oleh Ciung Wanara untuk datang dan memeriksa penjara yang baru dibangun. Ketika mereka berada di dalam, Ciung Wanara menutup pintu dan mengunci mereka di dalam. Dia kemudian memberitahu orang-orang di kerajaan tentang perbuatan jahat Barma dan Pangrenyep, orang-orang pun bersorak. Namun, Hariang Banga, putera Dewi Pangrenyep, menjadi sedih mengetahui tentang penangkapan ibunya. Ia menyusun rencana pemberontakan, mengumpulkan banyak tentara dan memimpin perang melawan adiknya. Dalam pertempuran, ia menyerang Ciung Wanara dan para pengikutnya. Ciung Wanara dan Hariang Banga adalah pangeran yang kuat dan berkeahlian tinggi dalam seni bela diri pencak silat. Namun Ciung Wanara berhasil mendorong Hariang Banga ke tepian Sungai Brebes. Pertempuran terus berlangsung tanpa ada yang menang. Tiba-tiba munculah Raja Prabu Permana Di Kusumah didampingi oleh Ratu Dewi Naganingrum dan Uwa Batara lengser. "Hariang Banga dan Ciung Wanara!" kata Raja, "Hentikan pertempuran, ini adalah pamali "tabu" atau "dilarang" dalam bahasa Sunda dan Jawa - berperang melawan saudara sendiri. Kalian adalah saudara, kalian berdua adalah anak-anakku yang akan memerintah di negeri ini, Ciung Wanara di Galuh dan Hariang Banga di timur sungai Brebes, negara baru. Semoga sungai ini menjadi batas dan mengubah namanya dari Sungai Brebes menjadi Sungai pamali untuk mengingatkan kalian berdua bahwa adalah pamali untuk memerangi saudara sendiri. Biarlah Dewi Pangrenyep dan Barma Wijaya yang dahulu adalah Aria Kebonan dipenjara karena dosa mereka." Sejak itu nama sungai ini dikenal sebagai Cipamali Bahasa Sunda atau Kali Pemali Bahasa Jawa yang berarti "Sungai Pamali". Hariang Banga pindah ke timur dan dikenal sebagai Jaka Susuruh. Dia mendirikan kerajaan Jawa dan menjadi raja Jawa, dan pengikutnya yang setia menjadi nenek moyang orang Jawa. Ciung Wanara memerintah kerajaan Galuh dengan adil, rakyatnya adalah orang Sunda, sejak itu Galuh dan Jawa makmur lagi seperti pada zaman Prabu Permana Di Kusumah. Saat kembali menuju ke barat, Ciung Wanara menyanyikan legenda ini dalam bentuk Pantun Sunda, sementara kakaknya menuju ke timur dengan melakukan hal yang sama, menyanyikan cerita bersejarah ini dalam bentuk tembang. Interpretasi Legenda ini adalah cerita rakyat Sunda untuk menjelaskan asal nama Sungai Pamali, serta untuk menjelaskan asal usul hubungan orang Sunda dengan orang Jawa; tentang dua bersaudara yang bersaing dan memerintah di pulau yang sama. Dari cerita ini jelas terlihat bahwa kerajaan Sunda Kerajaan Galuh lebih tua atau lebih awal berdiri dari kerajaan yang didirikan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal tersebut diperkuat dengan fakta sejarah bahwa kerajaan tertua di Jawa memang terletak di tatar Sunda, yaitu kerajaan Salakanagara. Namun jika menilik dari silsilah persaudaraan keduanya Hariang Banga dengan Ciung Wanara maka dapat disimpulkan bahwa orang Jawa Yang berasal dari Hariang Banga bersama pengikutnya merupakan saudara yang lebih tua dari orang Sunda Yang berasal dari Ciung Wanara bersama pengikutnya, dan orang Sunda menerima hal tersebut. Warisan sejarah Pahlawan nasional Indonesia dari Bali, I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan kecil yang dinamainya Pasukan Ciung Wanara di mana pasukan ini bertujuan untuk menghalau pengaruh Belanda di Bali untuk membentuk Negara Indonesia Timur setelah disetujuinya Perjanjian Linggarjati dan mengembalikan Bali dibawah kendali pemerintahan Indonesia. Pasukan Ciung Wanara yang jumlahnya tidak lebih dari 100 personil ini seluruhnya gugur dalam pertempuran Puputan Margarana melawan pasukan NICA Belanda di Tabanan pada November 1946. Lihat pula Sastra Sunda Pranala luar Referensi ^ Indonesia Ensiklopedi Sunda Alam, Manusia dan Budaya termasuk Budaya Cirebonan dan Betawi. PT Dunia Pustaka Jaya. Jakarta 2000. ^ Indonesiaciung wanara diaksés tanggal 27 Oktober 2011 ^ Tamsyah, Budi Rahayu 1999. Kamus Istilah Tata Basa jeung Sastra Sunda. Pustaka Setia. hlm. 175–176. ^ Noorduyn, J. 2006. Three Old Sundanese poems. KITLV Press.
cerita ciung wanara dalam bahasa sunda