cerpen tentang cita cita menjadi guru
Cerpen Sebuah Mimpi dan Cita-cita. Tulisan "Live Your Dream". Sumber foto: Pixabay. “Kamu harus punya mimpi masuk universitas negeri terkemuka. Mimpi kamu harus melampaui kakak-kakakmu. Kalau kamu tidak mau jadi dokter, kamu boleh ambil teknik pertambangan.”. Kata Ayahku di depan keluarga besar kami.
Jakarta NU Online Dalam acara Ngobras Spesial Lebaran bersama Wirda Mansur yang tayang di YouTube, Jumat (14/5) putri sulung ustadz Yusuf Mansur, Wirda Salamah Ulya menceritakan pengalamannya menempuh pendidikan di luar negeri secara gratis dengan menjadi guru ngaji.. Dirinya menuturkan bahwa sejak kecil ia memiliki cita-cita sekolah di luar
GambarCita Cita Menjadi Guru / Contoh Karangan Dalam Bahasa Inggris Tentang Cita Cita – Berbagai Contoh Nah, kali ini kita akan belajar. Nah, kali ini kita akan belajar . Jelajahi koleksi gambar, foto, dan wallpaper kami yang sangat luar biasa.
Kahlilmembagikan pengalaman belajar di rumah Kewajiban dasar seorang anak jika di rumah adalah membantu orang tuanya dalam segala hal yang dia mampu, sesuai usianya buatlah cerita tentang pengalaman saat belajar dirumah - Brainly … buatlah cerita tentang keseharian kamu dari bangun tidur sampai … Buatlah peta pikiran dari cerpen
Menurutnya kebijakan penghapusan PNS jalur guru mengubur kesempatan bagi para guru honorer menjadi PNS. Padahal, para guru honorer ini dianggap garda terdepan di sektor pendidikan kita. Dengan begitu, Ubaid mengaku pihaknya jelas menolak kebijakan penghapusan jalur ini, karena tidak berpihak pada guru dan juga tidak berorientasi pada mutu
Danke Dass Wir Dich Kennenlernen Durften. By DiyantiDimas namanya, seorang anak yang berumur 10 tahun, memiliki empat orang kakak dan dibesarkan oleh kedua orang tua dengan keadaan yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga yang mengurusi kelima keadaan ekonomi yang kurang mampu ayahnya tetap bertekat untuk menyekolahkan semua anaknya, minimal bisa lulus sendiri masih duduk di kelas lima SD, kakak pertama dan keduanya sudah bekerja di pabrik, sedangkan kakak ketiganya duduk di bangku SMA sebentar lagi lulus, lalu kakak keempatnya masih kelas delapan kecil, Dimas diajarkan untuk berhemat, rajin belajar supaya lulus dengan nilai yang memuaskan dan mendapatkan pekerjaan lumayan layak seperti kedua kakaknya. Setidaknya kedua kakaknya bekerja di pabrik bukan buruh bangunan seperti ayahnya. Sehingga bisa membantu perekonomian Dimas agak berbeda dengan keempat saudaranya. Pada usia dua tahun saja ia sudah bisa berbicara lancar. Pada usia empat tahun sudah banyak kosakata yang Dimas pahami. Dan ketika baru sekolah di kelas satu SD, Dimas sudah bisa membaca tanpa memang anak yang pintar, dia cepat memahami apa yang diajarkan oleh guru, orang tua, saudara-saudaranya, teman-teman maupun orang-orang di lingkungan sekitar. Sering kali ia bertanya apapun yang belum ia pahami. Contohnya ketika Dimas berumur lima tahun, ia bertanya setelah melihat ayahnya menyelesaikan sholat.“Tuhan itu seperti apa? Apa waktu sholat, Ayah lihat Tuhan?”Mendapatkan pertanyaan demikian, sang Ayah pun kelimpungan menjawab. Ibunya juga takut menjawab, takut salah, sedangkan keempat saudaranya juga tidak tau jawaban yang tepat. Pada akhirnya Ayah mengajak Dimas untuk bertemu dengan guru ngaji yang berjarak beberapa meter dari rumah sang guru ngaji bisa menjawab pertanyaan bocah lima tahun tersebut, walau Dimas terus-terusan bertanya yang belum ia pahami. Sejak itulah Dimas mulai belajar mengaji. Dia belajar huruf Arab dan cara membacanya jika di sambung-sambungkan. Dimas juga belajar tata cara sholat, doa-doa dan pengetahuan lainnya tentang agama, Dimas pun belajar ilmu umum di sekolah. Ia belajar matematika, belajar sejarah Indonesia dan belajar ilmu pengetahuan lainnya. Dan dari sekolah itulah Dimas tau tentang itu Dimas masih kelas satu, harus maju satu persatu untuk memperkenalkan diri. Tiba giliran Dimas, ia pun maju ke depan dan menghadap teman-temannya. Seragam yang ia kenakan tidak baru seperti teman-temannya, ia hanya memakai seragam SD milik kakak keempatnya yang menurut Ibu masih bagus Bu Guru mempersilahkan Dimas memulai perkenalan. Ketika itu, Dimas merasa senang sekali bersekolah, jadi ia tidak takut maupun malu untuk maju ke depan dan memperkenalkan diri.“Dimas, cita-citanya mau jadi apa?” tanya Bu Guru setelah Dimas menyelesaikan cerita mengenai kakak-kakaknya.“Cita-cita itu apa Bu Guru?” tanya balik Dimas dengan Guru kemudian menjelaskan, cita-cita adalah impian. Impian bukan mimpi saat tidur, namun impian kerja jadi apa saat dewasa. Itulah yang Dimas pahami saat itu. Dan karena itulah Dimas diam tidak menjawab.“Jadi Dimas cita-citanya jadi apa?” tanya ulang Bu Guru. “Mau jadi dokter, guru, polisi, tentara atau yang lainnya?”Dimas tetap diam. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, berarti cita-cita Ayahnya waktu kecil adalah menjadi buruh, lalu Ibunya tidak bekerja, berarti Ibu tidak mempunyai cita-cita. Tapi teman-teman yang lain banyak yang menjawab ingin menjadi dokter, berarti nanti ketika besar teman-temannya banyak yang menjadi dokter, berarti dokter jadi banyak sekali.“Dimas?” panggil Bu pun langsung menggelengkan kepalanya, dia menatap gurunya dengan bingung. “Aku cita-citanya nggak tau jadi apa, Bu Guru. Aku nggak mau jadi ayah kerjanya buruh bangunan, aku juga nggak mau seperti ibu yang nggak kerja, aku juga nggak mau jadi dokter, teman-teman banyak yang ingin jadi dokter.”“Kalau menjadi guru?” tanya Bu Guru memberi opsi kepada Dimas. “Guru tugasnya mengajar, nah karena ada guru lah jadi ada dokter, tentara, polisi.” Bu Guru tetap menjelaskan pelan-pelan.“Bu guru dulu kecilnya cita-citanya jadi guru?” Dimas malah balik bertanya. “Memang kalau aku bilang cita-citanya jadi guru, nanti besarnya pasti jadi guru ya Bu Guru?”Bu Guru saat itu langsung paham, jika Dimas merupakan anak yang cerdas. Ia pun memberi penjelasan dengan pelan-pelan dan dengan kata-kata yang mudah dipahami. Bahwasannya cita-cita adalah impian yang ingin diraih. Ingin berarti belum pasti namun diusahakan untuk diwujudkan. Jadi belum tentu Ayahnya dulu bercita-cita menjadi buruh bangunan. Sedangkan Bu Guru bilang jika cita-citanya saat kecil adalah menjadi guru, namun Bu Guru memberitau bahwa ketika besar atau dewasa banyak sekali masalah atau rintangan yang menghadang untuk mewujudkan cita-cita. Rintangan yang menghadang, contohnya tidak punya uang, berhenti sekolah dan banyak lagi. Bu Guru bilang bahwa Dimas akan memahaminya nanti, jadi Dimas tidak banyak bertanya walau kurang paham pada saat itu. Bu Guru bilang kalau dia akan memahaminya nanti. Nanti berarti Dimas pasti akan sekarang Dimas sudah berusia 10 tahun. Ia sudah lebih banyak mempelajari suatu hal. Misalkan tentang agama, Dimas sudah lancar mengaji dan pernah khatam sekali. Dia juga semakin tau apa itu pahala dan dosa. Sedangkan di sekolah, Dimas menjadi siswa terpintar di kelasnya. Ia selalu menduduki peringkat pertama mengungguli teman-temannya yang itu Dimas juga mulai paham tentang cita-cita. Ia bertekat ingin menjadi orang yang sukses, entah dalam pekerjaan apa Dimas belum bisa menentukan. Orang yang sukses berarti harus bisa sekolah dan banyak Dimas juga mulai memahami mengenai masalah dan rintangan yang menghadang seperti yang dikatakan Bu Guru beberapa tahun yang lalu. Pengalaman dan keadaan menghantarkan Dimas untuk tau masalah atau rintangan yang menghadang.“Keadaan sekarang semakin sulit, Ayah sudah tidak bekerja lagi sedangkan Santi sudah di pecat, tinggal Bima yang diandalkan, gimana kita bisa bayar uang sekolah Deni, Evi sama Dimas?” Ibu mengeluh di ruang tamu, di depan sang Ayah yang tampak frustasi dengan keadaan yang semakin berpikir jika anak-anaknya sudah tertidur, namun nyatanya Dimas sedang berdiri di balik tembok, awalnya tidak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.“Nanti pasti bisa melunasi uang sekolah anak-anak.” Ayah berkata. Cara untuk menghibur diri dari himpitan kesusahan, selalu percaya bahwa hari esok akan baik-baik saja.“Uang dari mana?” Ibu bertanya terdiam di tempatnya. Apakah dia akan putus sekolah dan tidak bisa mewujudkan cita-citanya yang ingin menjadi orang sukses? Anak usia 10 tahun itu termenung di tempatnya berdiri. Ibu sedang menangis, terisak pilu. Ayah memegang kepalanya terasa pusing. Lalu Dimas?Anak itu sedang berpikir keras untuk mengorek kembali ingatan tentang ucapan guru ngajinya.“Tuhan akan selalu menolong hamba-Nya yang sedang kesusahan.”Benar. Itulah yang diperlukan Dimas sekarang, yaitu berkeluh kesah kepada Tuhan. Pasti Tuhan akan mendengar dan akan segera menolong keadaan pelik yang menimpa mereka.[Tamat]
Cerpen Karangan Hendra Surya PutraKategori Cerpen Pengalaman Pribadi Lolos moderasi pada 24 January 2014 Nama saya Hendra surya putra, tapi biasanya saya dipanggil teman-teman saya Acun. Umur saya 15 tahun, tempat tanggal lahir saya di Gresik, Jawa timur. Saya anak ke-3 dari 3 bersaudara. Saya disuruh guru saya membuat Cerpen cerita pendek saat liburan. Dan cerpen itu bertemakan tentang cita-citaku. Pada saat saya duduk di bangku SD kelas 1 saya memiliki cita-cita menjadi Pilot, tetapi entah mengapa pada saat saya duduk di bangku SD kelas 5/6 cita-cita saya luntur, dan pada kelas 7 dan 8 ketika guru saya menanyakan cita-cita saya. Saya hanya mengikuti teman-teman saya, yaitu menjadi seorang Dokter, tetapi saya baru sadar dan tahu tentang cita-cita saya, yaitu saya ingin menjadi koki/chef dan meneruskan usaha orangtua saya. Dengan begitu saya berharap bisa membanggakan kedua orangtua saya. Dan kemudian saya masuk di Sekolah menengah kejuruan yaitu SMK Katolik Mater Amabilis Surabaya yang berada di Jl. Teratai 2B dekat gelora 10 november. Dan saya mengambil jurusan Jasa boga yang pas dengan passion dan cita-cita saya yaitu ingin menjadi chef/koki. Disini saya mendapat teman yang berbeda-beda sifatnya, ada yang baik, ada yang biasa saja, dan ada yang jahat. Semua itu tergantung kita menilai orang tersebut. Pada saat semester ini saya sudah diajarkan cara mengupas dan memotong buah yang baik, saya juga sudah di ajarkan cara memotong sayuran yang benar. Dan juga telat di ajarkan membuat kue-kue khas Indonesia, di antaranya Kue mata roda dan dadar gulung. Di sini juga ada perkenalan bahan/bumbu, seperti jahe, cabe merah, blimbing wuluh, bawang daun, bawang merah, dan masih banyak lagi. Di sini saya juga dikenalkan peralatan hiding, di antaranya dinner plate, dessert plate, bread and butter plate, compote dish, pudding bowl, rice bowl, cereal bowl, dan masih banyak lagi yang saya tidak sebutkan, dan juga saya diajarkan melipat guest napkin yang benar, dan juga diajarkan melipat 10 napkin lebih dalam waktu 10 menit. Dulu sih awalnya saya tahu sekolah ini dari kakak perempuan saya, karena pada saat dia kuliah dia bertemu dengan teman-teman yang lulus dari SMK Mater amabilis. Tetapi dia tidak tahu tempatnya dimana. Tetapi akhirnya SMK Mater Amabilis datang ke SMPku dan mempromosikan sekolahnya. Saya pun semakin mantap dan langsung membeli formulir pendaftarannya. Kemudian keesokan harinya saya mengembalikan formulir tersebut kepada pihak sekolah dan langsung disuruh ikut test masuk hari sabtunya. Dan pada sabtu saya mengikuti test di SMKK Mater Amabilis dan pada hari senin orangtua saya disuruh ke sekolah untuk membicarakan registrasi. Dan akhirnya saya pun masuk dan bersekolah di SMK Mater Amabilis Surabaya hingga sekarang. Kembali kecita-citaku, sudah saya ceritakan tadi bahwa cita-cita saya adalah menjadi koki dan membanggakan kedua orangtua saya. Saya akan berjuang lebih keras lagi dan belajar lebih tekun lagi. Dengan demikian saya bisa mencapai cita-cita saya, cita-cita saya yang ini memang benar-benar bulat. Disaat saya besar nanti saya akan meneruskan usaha orangtua saya, sebelum itu saya harus belajar menjadi koki yang handal. Setelah lulus SMK ini saya akan kuliah kulineri di Tristar Culinery Institute. Dan setelah lulus kuliah saya akan mengikuti master chef. Dan nanti di rumah makan orangtuaku akan terpajang foto + ijazah atau surat yang menyatakan Hendra surya putra lulus dengan nilai terbaik. Dan juga lulus OJT On the Job Training dengan kehadiran 100%. Dan itu semua cita-citaku. Sekarang saya akan menceritakan masa lalu saya saat berada di SD dan SMP agar cerpen ini menjadi 1000 kata lebih. Pada saaat saya SD saya bersekolah di SD Setia Budhi Gresik, tepatnya di jl. Dr Setia Budhi. Di sana hanya ada 1 kelas dari masing-masing angkatan, misalnya kelas 1 hanya 1 kelas, kelas 2 hanya 1 kelas dan seterusnya. Jujur disana saya bosan karena setiap tahun hanya bertemu dengan teman yang itu-itu saja, dan jika sudah mengenal teman yang itu-itu saja guru-guru pun telah mengenal murid 1 per 1. Begitu juga ketua kelas dan perangkat kelas lainnya, di setiap tahun yang dicalonkan oleh wali kelas adalah murid yang pernah menjadi perangkat kelas sebelumnya, jadi murid yang lain tidak diberi kesempatan untuk menjadi perangkat kelas, dan karena guru-guru telah mengenal murid 1 per 1 guru jadi memilih-milih dan tidak adil, bagi murid yang pintar murid tersebut dan disayang, sedangkan murid yang kurang pandai dikeduakan. Di SD ku dulu juga tidak ada yang namanya OSIS. Begitulah masa SD ku meski 6 tahun di SD tetap saja ceritanya hanya sesingkat itu. Sekarang cerita masa SMP. Pada saat saya SMP saya bersekolah di SMP Angelus custos atau biasa disingkat SMPK AC1. Di sana terdapat 7 kelas dalam 1 tingkatan. Pada awal saya sekolah disana saya tidak mengenal siapa-siapa. Teman-teman SD saya yang masuk AC1 hanya 14 orang. Tetapi untunglah saya masih ada kenalan atau teman SD sebab ada teman 1 kelas ku yang tidak memiliki teman SD 1 pun, jadi seperti diatas awan masih ada awan. Aku masih beruntung dari teman ku itu. Tapi sekarang kita semua berteman. Dan sampai sekarang masih terdapat komunikasi berlanjut. Nah di SMP ku itu sudah terdapat pengurus OSIS sebenarnya saya mau mendaftar masuk OSIS itu, tetapi pada saat itu pelajaran saya kurang sehingga dilarang oleh walikelas, dan akhirnya disuruh memperbaiki nilai agar kelas 8 bisa masuk Osis, tetapi pada kelas 8 nilai saya sudah meningkat tetapi ada sedikit masalah yang menjadikan saya tidak mengikuti seleksi Osis. Hampir setiap hari kita main sepak bola dilapangan pada saat istirahat maupun pulang sekolah. Di sana kami juga makan bersama saat istirahat bermain bersama kembali ke kelas bersama dan melakukan aktivitas yang lain bersama kecuali mandi/buang air. Di kelas 9 saya mendapat teman-teman yang selama kelas 7 dan 8 belum kenal atau hanya kenal saja. Di kelas 9 kita jadi akrab, dan menjadi teman yang baik. Kita makan bersama di kelas bersama pelajaran bersama dan masih banyak lagi. Meskipun di kumpulanku tersebut terdiri dari 3 perempuan dan 3 laki-laki, tetapi kita tetap solid dan menjadi teman bahkan sesudah UNAS, sekarang kami telah berbeda sekolah semua, ada yang di SMK Sinlui, ada yang d SMA Unsur, di SMA Sanmar, ada di SMA Frateran, dan Seminari garum, tetapi kita tetap komunikasi dan ingin bertemu kembali pada saat liburan natal atau lainnya. Seperti sebentar lagi kami ingin bertemu lagi di Bazar frateran yang akan berlangsung di tanggal 16-18 Oktober ini. Kembali ke SMK, sebenarnya saya ingin menjadi pengurus Osis, tetapi entah mengapa saat ada vote berlangsung dan dihentikan dan akhirnya saya tidak terpilih, tetapi ya sudahlah apa mau di kata. Nah akhirnya sudah 1000 kata lebih dikit, saatnya saya untuk berpisah dan semoga yang membaca tidak bosan. Cerpen ini bersifat real dan tidak mengandung unsur humor. Demikian dari saya, maaf bila ada salah tulis atau yang lainnya, sekian terimakasih. Dan maaf juga karena saya bukan penulis novel atau cerita jadi saya tidak bisa menempatkan kalimat-kalimat dengan benar dan akhirnya menjadi alur maju mundur. Cerpen Karangan Hendra Surya Putra Facebook Hendra surya putra Twitter Hendra_Acun Line Hendra-Acun Instagram Hendra_Acun Cerpen Cita Cita Yang Baru Ku Temukan merupakan cerita pendek karangan Hendra Surya Putra, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Truntung Oleh Renita Melviany Lelah rasanya pagi ini, harus segara bersiap di jam ternikmat untuk diam di bawah selimut. Terpaksa pergi ke kamar mandi untuk berperang melawan dinginnya suasana pagi. Melewati waktu dengan Hujan, Laut dan Kenangan itu Oleh Nurus Sa'adah Malam yang dingin. Kutengadahkan wajahku ke atas. Menatap langit, sepertinya langit masih berselimut mendung. Teras rumah juga masih basah. Tadi sore hujan turun lagi, sepertinya akhir-akhir ini hujan seringkali Kebahagiaan yang Tak Terduga Oleh Lina Chandra Sari Bismillah… Hari pertama kerja mudah-mudahan tidak mengecawakan bos. Demi anak aku harus bekerja keras sendiri, membesarkannya sendiri. Disinilah tempatku bekerja. Resto Xiaoci Taiwanesse, dimana di tempat ini pula aku Cinta di Dunia Maya Oleh Indah Laras “Although we have never met… but you were able to make me comfortable… I guess I’m fall in love…†Begitu statusku di fb. Namaku Indah, aku adalah seorang gadis Merindukanmu Oleh Anthika Sinar mentari menyinari kamarku. Melalui jendela kamar yang terbuka. Wangi bunga-bunga di halaman yang diselimuti oleh embun pagi, memenuhi kamar mungilku yang juga berhias bunga. Pagi ini begitu cerah. “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?†"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Pak Oes oes adalah panggilan akrabnya. Dia sudah menjadi guru sejak dibangku kuliah. Saat mengajar pak Oes juga aktif dalam organisasi mahasiswa yang sering demo dan turun ke Jalan. Pak Oes juga senang sekali belajar filsafat dan sejarah-sejarah. Pernah sekali aku bertanya pada Pak Oes tentang mengapa kegemaranya berfisalat dan membaca buku-buku social terumta sejarah, pak Oes menjawab, “melalui filsafat saya mencoba memahami kuasa tuhan, melalui ilmu social saya mencoba memahami masalah manusia.” Jawaban yang membuat ku berpikir kelas saat itu. Saat itu Saya adalah murid Pak Oes di kelas tiga di salah satu SD pinggiran Jakarta. Dalam mengajar sekali kali Pak Oes melontarkan pertanyaan yang cukup lucu bagi ku dan teman-teman ku. Suatu ketika Pak Oes menanyakan pada kami “anak-anak, disini siapa yang pernahh berpikir kenapa kalian hidup”, tanya pak Oes. Beberapa kawan ku terdiam sejak sebelum Alifah mengangkat tangannya dan berkata, “Saya pernah pak”. “Lalu, apa yang kamu lakukan”, kata Pak Oes. “Karena pusing dan enggak ketemu-ketemu, akhirnya saya lupain aja pertanyaan itu. Emangnya kenapa pak, bapak lagi galau?”. “Enggak hanya memastika kalian punya tujuan hidup” tandasnya. Dia lain waktu pak Oes juga menceritakannya tentang kecerdasan yang mirip kebodohan, dan cita-citanya dimasa kecil. Suatu pagi pak Oes bertanya kepad kami, “Anak-anak, siapa di sini yang punya cita-cita dan apa cita-citanya?”. Sontak kelas menjadi ramai dan bising. Ada yang menyeletuk ingin menjadi pilot, dokter, polisi, tantara dan lain-lain, bahkan ada punya empat cita-cita seperti Ucup. “Pak, saya mau jadi polisi, tapi kalau gak bisa saya mau jadi tantara, kalau gak bisa juga saya jadi guru, dan kalau masih gak bisa juga saya akan menjadi diri sendiri”. Terdiam sejenak Pak Oes, “yang baiknya juga jadi diri sendiri”. “kalian tahu dulu waktu usia saya seumur kalian, apa cita-cita saya?” tanya pak Oes. Sebagian meletuk dengan kecepatan suara, pilot, polisi, tantara, presiden, guru dan lainnya hingga ku lupa, hamper semua teman ku menebak cita-cita Pak Oes. Sambil mendengarkan tebakan teman-teman ku Pak Oes menggelengkan kepala dengan nada khasnya, “eeeemmm, bukan”. Sampai kami sebut profesi yang kami ketahui. “Ini adalah rahasia besar dalam hidup bapak, tapi jangan ada yang beri tahun yang lain, takutnya yang lain nanti ikut-ikutan” raut wajahnya menjadi tegang dan seketika kelas menjadi seyam ingin mendengar perkataan Pak Oes yang mulai memelan. Sambil menuju ketengah Pak Oes mengulangi kata-katanya, “jangan ada yang tahu selain kita bisa?”. Secara reflek teman-teman ku menganggukan kepalanya tanpa disadari menadakan mereka setuju. “Cita-cita saya adalah menjadi power renger merah” kata Pak Oes. Sontak semua kelas tertawa terbahak-bahak, hingga Ferdi kepalannya terbentuk ke mejanya saat itu. “Ya, memang benar saya sampai mengumpulkan jam tangan dan tempat minum yang mirip remot perubah diri power ranger, dan berharap jika saya tekan maka saya akan menajadi renger merah dan punya mobil yang bisa jadi robot” tandas Pak Oes denganwajah seriusnya. Pak Oes juga bercerita, bahwa gurunya pernah terheran-heran pada dirinya. Di suatu pagi kelas yang seperti biasaya, setelah Nadia memimpin barisan dan wulan memeriksa kuku, kami berdoa. Kurang lebih kami menunggu Pak Oes lima menit. Pak Oes mungkin guru yang agak rajin disbanding gur-guru kelas sebelah yang 20 menit setelah kami berlajar mereka baru berdoa. Pak Oes sering bilang pada kami, ketika mendengar keributan di kelas sebelah, “anak-anak jangan kita punya mental anjing herder. Sifat anjing itu penutur, tapi jika ada tuannya. Jika gak ada tuanya mereka menggong-gong semua orang lewat. Kalian disiplin dan rajin jangan karena takut sama saya, jika tak mau selevel dengan anjing herder tadi”. Lanjut kecerita di pagi itu. Banyak teman-teman ku termasuk aku, sangat takut mengungkapkan pendapatnya kepada guru, karena takut dari kesalahan hingga Pak Oes mencerita kisah yang baru di alami. “saya punya teman Namanya Wandi. Temannya saya ini tak lebih pintar dari saya soal pelajaran. Kadang dia suka nanya ke saya. Pada suatu hari di saat pelajaran PKn di kelas dan dosen guru saat ini terkenal galak dan super ribet. Dosen itu memberikan 10 soal pada hari ini dan harus selesai dalam waktu 30 menit. Setelah 30 menit dosen ini memeriksa hasil jawaban para mahasiswa termasuk saya. Setelah di periksa nama saya di panggil kedepan. Oes, apa-apan ini kamu cuma bener satu soal, kamu mikir gak si?’, kata ibu dosen. Mikir bu’, saya menjawab muka saya takut dan panik. Tak lama bu dosen itu kembali berterika Wandi Maju ke depan, apa-apan kamu masa jawaban kamu salah semua’. saya hanya mengamalkan apa yang ibu ajarkan’, balas wandi dengan muka santai. Memang saya ajarkan apa’, bertanya ibu dosen pada Wandi. ibu bilang belajarlah dari kesalahan, maka hari ini saya jawab semua soal dengan salah, agar saya mendapat banyak pelajaran dari ini, ibu juga bilang kalau gak salah gak belajar’, jawab Wandi dengan tenang. Sontak saya dan satu kelas tertawa”, begitu cerita pak Oes untuk memotivasi kami. Kini aku sudah masuk ke salah satu Universitas di Jakarta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Aku coba ingat-ingat setiap kata dari Pak Oes tentang cita-cita. Pak Oes juga pernah cerita tentang John Lock yang menjadi landasan Pendidikan. Aku mulai menyadari, sesungguhnya cita-cita kita adalah refleksi dari lingkungan tempat kita berada. Setelah mau jadi Power ranger, Pak Oes ingin jadi Tsubatsa, lalu ingin jadi Bajak laut dan lain-lain. Cita-cita itu harus menyenangkan, cita-cita bukan profesi tapi sesuatu yang jauh hingga tak dapat terwujud namun terus kita terwujud. Hakikat cita-cita pak Oes adalah hidup Bahagia, memberantas kejahatan dan menikmati hidup dengan yang kita senangi. Ku dengar Pak Oes sudah diangkat jadi PNS karena lolos tes, semoga kelak aku bertemu dengannya. Kampung rambutan 15 Januari 2020
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Kisah ini berawal pada masa saya waktu pertama masuk sekolah MTsN Lambalek, waktu pertama kali saya mendaftar di MTsN Lambalek saya bertemu dengan Buk Olivia beliau sangat ramah dan baik hati saya pun sangat mengagumi sosok buk Olivia saya selesai mendaftar kemudian saya duduk sejenak di dekat kantor kepala sekolah lalu tiba-tiba saya di samperin sama buk olivia dengan perasaan sangat bahagia lalu beliau menanyakan kepada saya "Rahmad cita-citanya mau jadi apa?" kemudian sayapun menjawab pertanyaan beliau"Mau jadi orang sukses dan bisa membahagiakan kedua orang tua buk" Lalu beliau tersenyum, buk olivia juga memotivasi saya dan juga bercerita tentang masa lalu perjuangan beliau untuk menjadi orang sukses, pada sejak itulah saya sangat mengagumi beliau bahkan sangat mengidolakan beliau sampai saat sekarang ini. Setelah saya mendengar cerita perjuangan buk olivia saya semakin bersemangat dalam menempuh pendidikan karena saya teringat dengan perkataan buk olivia, "jika kamu ingin sukses maka jangan pernah menyerah dalam menggapai cita-citamu". Lihat Cerpen Selengkapnya
Assalamu’alaikum perkenalkan saya Harmi Hikmatiar. Saya biasa dipanggil Amy. Saya mengajar di SDN Pakujajar CBM Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Pada kesempatan ini, izinkan saya sedikit berbagi tentang kisah saya menjadi seorang adalah sosok yang sangat saya kagumi sejak kecil. Namun, tak pernah terbersit sedikit pun bahwa saya akan menjadi salah satu bagian dari mereka. Sejak kecil, saya memang sangat senang berbagi pengetahuan dengan teman, sering juga memerankan seorang guru saat bermain dengan teman. Akan tetapi, dulu saya berfikir bahwa seorang guru harus mempunyai kemampuan yang lebih dari orang lain. Seorang guru pun harus bisa bertanggungjawab untuk bisa mendidik siswa – siswanya dengan baik. Karena alasan – alasan tersebut, saya meras bahwa saya tidak mampu dan tidak siap untuk menjadi seorang guru. Kisah perjalanan saya menjadi seorang guru cukup menarik karena harus mengalami berbagai masalah yang memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya. Saat SMA, saya tidak bercita – cita untuk menjadi guru. Namun, takdir berkata lain. Orangtua saya menyarankan saya untuk berkuliah di bidang keguruan. Awalnya saya enggan, namun akhirnya saya pun berkuliah di salah satu Sekolah Tinggi swasta yang ada di kota tempat saya tinggal. Selama setahun berkuliah, saya pun mulai merasa nyaman. Saya merasa menemukan dunia saya. Banyak teman – teman yang selalu bersama dan saling mendukung. Saya pun mulai menerima takdir saya yang memang harus menjadi seorang guru. Setelah lulus kuliah, saya pun mencari kebeberapa Sekolah terdekat untuk bisa menjadi honorer. Namun, sangat sulit sekali mendapatkan pekerjaan ini. Semua sekolah yang saya datangi tidak ada lowongan. Saya pun tidak menyerah dan mencoba untuk menghubungi salah satu guru pamong yang membimbing saya saat praktik mengajar. Saya berharap akan mendapatkan pekerjaan sebagai honorer di salah satu sekolah. Alhamdulillah akhirnya saya mendapatkan pekerjaan sebagai seorang honorer di sekolah negeri, dan syaratnya saya juga harus bisa juga menjadi operator. Untungnya, saya sudah belajar dan mengerti tentang teknologi walaupun hanya dasar, jadi saya tidak begitu kesulitan. Saya menjalani profesi sebagai seorang guru honorer dengan banyak tantangan. Saat pertama kali menjadi guru honorer, saya mendapatkan kabar yang menyedihkan. Ayah saya mengalami kecelakaan saat sedang bekerja. Karena kecelakaan ini, kami sekeluarga tidak mendapatkan penghasilan. Sehingga kami harus menjual rumah kami yang ada di luar kota tempat tinggal kami sebelumnya, dan membeli rumah nenek yang kami tinggali sekarang. Saya sangat sedih karena tidak bisa banyak membantu kedua orangtua saya. Penghasilan saya yang kecil membuat saya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri apalagi untuk membantu keluarga sangat sedih karena belum bisa membanggakan kedua orangtua saya. Namun, itu semua tidak menjadikan saya putus asa, saya selalu berusaha yang terbaik untuk menjadi guru yang baik. Saya tidak pernah mengeluh walaupun banyak pekerjaan yang harus saya kerkjakan tepat waktu. Selain mengajar di sekolah, saya mendapat tawaran untuk menjadi tutor di Paket B dan Paket C, alhamdulillah setidaknya saya mendapat penghasilan tambahan sehingga tidak terlalu kesulitan dan menyusahkan kedua orangtua saya. Menjadi seorang guru honorer memang tidak mendapat penghasilan yang cukup, akan tetapi saya merasakan kebahagiaan tersendiri saat mengajar. Saya merasa senang saat mengajar. Segala beban yang ada di pikiran saya seolah hilang seketika ketika saya bertemu dengan siswa - siswisaya. Walaupun mereka terkadang membuat saya merasa kesal dan jengkel, namun mereka semua sangat menyayangi saya dan selalu membuat saya bahagia. Saya pun sangat menyayangi mereka. Menjadi guru memang tidaklah mudah, namun jika dijalani dengan penuh keikhlasan semua kelelahan tidak pernah terasa. Semua kelelahan yang saya rasakan tergantikan dengan rasa kebehagiaan dan kebanggaan. Awalnya saya tidak percaya diri menjadi seorang guru, saya takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk murid - murid saya, tapi saya terus berusaha dan belajar dari pengalaman orang lain, sehingga saya mulai menemukan kepercayaan diri bahwa saya mampu. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi siswa - siswisaya. Walaupun apa yang saya lakukan belum maksimal, tapi saya berharap semoga apa yang sudah saya berikan kepada siswa - siswisaya dapat bermanfaat dan berguna bagi mereka di masa mengajar kurang lebih selama 1,5 tahun, saya mendapat kabar ada pendaftaran untuk menjadi PNS. Saya pun bersemangat untuk mengikuti tes tersebut. Namun, semuanya tidak berjalan mulus. Saya harus menghadapi tantangan terlebih dahulu yang membuat saya putus asa. Saat saya mendaftar untuk mengikuti tes, ternyata ada kesalahpahaman dari pihak BKD yang membuat ijazah D2 saya tidak bisa digubakan untuk mendaftar. Saya sangat kecewa saat itu. Saya pun terus menunggu di ruangan sampai siang. Teman – teman saya dari satu sekolah yang mendaftar sudah selesai dan pulang, namun saya tetap menunggu. Akhirnya saya pun menyerah dan bertekad untuk melaporkannya ke tempat perkuliahan saya dulu. Saat sampai di rumah, saya sangat sedih dan menangis karena saya merasa kecewa tidak bisa mengikuti tes tersebut. Keesokan harinya, saya pun mendapat kabar bahagia dari teman saya bahwa ijazah kami sudah bisa digunakan untuk mendaftar. Saya sangat senang dan bersyukur. Walaupun belum tentu saya lulus, saya sudah senang karena bisa mengikuti tes. Saya memang sangat berharap untuk lulus PNS, karena saya ingin sekali membahagiakan kedua orangtua saya. Saat tes pun tiba, namun saya merasa sangat gelisah, karena melihat banyak sekali saingan yang kompeten. Mereka bersasal dari Universitas negeri, sedangkan saya hanya dari Sekolah Tinggi swasta. Namun, saya tidak putus asa. Saya berusaha yang terbaik, saya mengerjakan soal dengan semampu saya. Akhirnya, waktu pengumuman pun tiba. Saya sangat gugup. Pagi – pagi sekali teman saya pun menelepon dan memberitahu saya bahwa nama saya tertera lulus di koran. Saya sungguh senang sekali. Namun, saya belum bisa percaya dengan kabar baik itu. Saya takut itu hanyalah candaan dari teman saya. Ternyata berita itu benar, saya dinyatakan lulus. Saya sangat bersyukur dan langsung mengabari kedua orangtua saya. Mereka pun sangat senang mendengar kabar itu. Saya tidak pernah menyangka akan bisa lulus di usia saya yang saat itu masih 20 Duta Baca Anak Tahun 2019Lomba Vlog Literasi Tahun 2021Setelah menjadi seorang PNS, saya semakin bersemangat untuk mengajar dengan baik. Saya diberikan kepercayaan untuk membimbing siswa di perlombaan. Alhamdulillah, siswa – siswi yang saya bimbing bisa membanggakan. Saya dipercaya untuk membimbing siswa di bidang literasi. Banyak perlombaan yang kami ikuti, dan alhamdulillah mendapat hasil yang cukup memuaskan . Prestasi yang paling membanggakan bagi saya yaitu salah satu siswa yang saya bimbing berhasil menjadi Juara 3 Duta Baca Anak Provinsi Jawa Barat dan Juara 3 Lomba Vlog Literasi Provinsi Jawa Barat. Saya sangat bersyukur, berkat dukungan orangtua dan kegigihan dari siswa itu, kami bisa membanggakan sekolah kami tercinta. Kejuaraan lain yang pernah diraih diantaranya juara 1 dan 3 lomba bercerita se-Kota Sukabumi, juara 2 lomba mengalihkan cerita menjadi gambar se- Kota Sukabumi, juara 4 lomba review buku se – Kota Sukabumi. Semua yang telah diraih dari kegiatan literasi ini tidak lepas dari usaha keras dan dukungan dari semua pihak. Saya bersyukur atas dukungan kepala sekolah dan para guru bahkan dukungan dari orangtua siswa yang membuat saya semangat untuk terus maju. Saya pun berharap, kegiatan literasi di sekolah saya bisa semakin baik dan menghasilkan juara lain yang bisa lebih membanggakan sekolah. Menjadi seorang guru memang harus dijalani dengan ikhlas. Ternyata ada rahasia Tuhan di setiap perjalanan hidup manusia. Tidak ada hal yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak. Saya sangat bersyukur, Tuhan telah menakdirkan saya menjadi seorang guru. Dengan menjadi seorang guru, saya banyak belajar pengalaman hidup, belajar lebih sabar, belajar lebih ikhlas dan belajar untuk bisa memahami kekurangan oranglain. Saya yakin rekan – rekan guru lainnya pasti juga suatu saat akan mendapatkan keajaiban yang tidak pernah diduga. Segala proses perjuangan yang sudah dilakukan akan berbuah manis. Kita harus tetap optimis dan saat ini, saya sudah mengajar selama 14 tahun lebih. Banyak hal yang sudah saya alami. Saya tidak akan pernah menyerah untuk bisa menyelesaikan segala masalah yang saya hadapi. Saya yakin semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Saya sangat bangga menjadi seorang guru yang bisa mendidik generasi penerus bangsa. Menjadi bagian penting dari Tujuan Pendidikan Nasional. Semangat terus para pendidik se-Indonesia. Semoga Pendidikan di Indonesia semakin maju mengikuti perkembangan zaman.
cerpen tentang cita cita menjadi guru