cerpen panjang tentang broken home
Catatananak broken home ini menjadi pengingat bagi para orangtua bahwa tindakan orang dewasa berpengaruh pada masa kecil anak. Dilan menyaksikan, kemarahan yang besar juga datang dari kakak pertamanya. Ia sudah duduk di bangku SMA saat itu.
PerjuanganSeorang Ibu. Cerpen Karangan: Febryani Charizma Landa. Kategori: Cerpen Keluarga. Lolos moderasi pada: 30 October 2015. Siang dengan panasnya terik matahari tak mampu mencegah Ibu tua itu untuk tetap bekerja. Dia terus bekerja tanpa menghiraukan panas teriknya matahari siang demi mendapatkan nafkah.
Adajuga anak broken home, yang menghadapi ujian berat dari rumahnya sendiri. Well, apa pun duka dan traumanya, kita selalu disarankan untuk move on dan move up. Jangan sampai terlalu larut. Jangan biarkan masa depan mengabut. Nah, berikut ini serangkaian quotes, kutipan, atau kata-kata tentang broken home dalam Bahasa Inggris beserta artinya:
MTQTingkat Provinsi Sumatra Barat akan digelar di Padang Panjang
CerpenBroken Home merupakan cerita pendek karangan Nadya Dasatzha, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Twitter WhatsApp « Hitam (Sebelumnya) | (Selanjutnya) Ku Tak Peduli » " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Thank You, Kezia Best Friend. Yap.
Danke Dass Wir Dich Kennenlernen Durften. Cerpen Bahasa Indonesia "Broken Home" - Seperti yang udah pernah ane bilang di blog pembukaan dulu. ane bakal share tugas-tugas sekolah ke akun blog ini. cerpen ini salah satu tugas sekolah yang disuruh guru bahasa indonesia ke ane. lumayan lah buat kalian yang nyari contoh ataupun yang nyari inspirasi buat membuat cerpen. langusng ah mangga diliat.... Di saat aku termenung di ujung ruang. Berselimutkan sayatan dingin angin malam ini. Paras yang seolah mencerminkan kebahagia-an, namun jiwa ini telah hancur berkeping-keping. Memang, dengan usiaku yang baru menginjak 10 tahun, tak seharusnya aku mengalami peristiwa yang teramat pahit. Namun inilah kehidupanku! Jam dinding tua di kamarku berbunyi hingga 10 kali tanda malam itu tepat pukul WIB. Mata ini tak mau untuk memejam. Entah karena memang enggan untuk terlelap atau karena telingaku bising akan cekcok antara dua manusia paruhbaya berlain jenis. Yayaya, merekalah orang tuaku. Masih saja seperti anak kecil, tidak pernah bisa menyelesaikan masalah tanpa bertengkar. Seolah terbiasa mendengar mereka beradu mulut, aku hanya diam mengintip dari celah pintu kamarku. Batinku meronta seakan ingin melerai dan menghentikan pertengkaran itu. Namun, aku kembali berfikir atas resiko yang akan aku dapatkan jika melakukan kebodohan itu. Hingga pada suatu hari terdengar teriakan ayah beberapa kali kepada bunda “Dinda, mulai sekarang kita cerai!” Tampak, ibu menangis mendengar perkataan ayah. Disisi lain, aku hanya bisa terdiam melihat semua kejadian itu terjadi begitu saja. Tiba-tiba mereka menghamipiriku di balik pintu kamar dan menyuruhku untuk memilih untuk ikut ayah atau ibu. Tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan bahwa aku akan ikut dengan ayah. Ibu terlihat sangat kecewa atas keputusanku. Namun ibu tak bisa melawan dan tak bisa berbuat apa-apa. Mulai sejak saat itu aku tinggal bersama ayah di jakarta dan melarangku untuk menemui ibu kandungku di bandung. Itulah awal dari kebahagianku yang mulai menghilang. Sayang, sepertinya aku salah memilih ayah sebagai tujuan hidupku. 8 tahun kemudian ayahku memutuskan untuk menikah lagi, sebenarnya aku tidak setuju, namun apa boleh buat. aku tidak ingin membuat ayah kecewa. Namun, disisi lain akulah yang kecewa terhadap keputusan ayah. Keadaan bukannya semakin membaik, justru sebaliknya. aku merasa perhatian kedua orang tuaku semakin berkurang. Apalagi setelah adik tiriku lahir. Prestasi toni lambat laun jadi menurun. Tidak aku sangka kehidupanku akan seperti ini. Orang tuaku berpisah di saat aku harus bertarung demi masa depanku. Kejiawaanku mulai tak tenang. Aku hanya bisa mencetak diri sebagai pemuda yang pemurung dan penuh beban yang menutupi semuanya dengan senyum palsu. Tak ada yang bisa aku jadikan sebagai tempat curhat dan pelampiasan. meski memiliki teman terbaik sekalipun, kadang mereka tidak sepenuhnya mengerti keadaan aku. Bisa jadi dia tidak paham akan kondisi kita atau dia juga dalam masalah yang sama atau masalah yang lain. Meski dikelilingi teman-teman yang baik, ada kalanya, anak broken home benar-benar merasa kesepian. Tidak ada yang lebih sempurna, dibanding kasih sayang orangtua. Namun, setelah sekian lama mencari. Aku akhirnya menemukan tempat yang pas untuk dijadikan pelampiasan. yaitu dengan cara merokok, meminum alkohol dan berpesta. aku merasa bahagia dengan semua itu. Semua bebanku terasa menghilang ketika melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk itu. Aku tidak takut orang tuaku tahu, karna aku tahu bahwa ayah dan ibu sama sekali tidak peduli terhadapku. Sekarang aku sudah menginjak usia 18 tahun aku pun sudah menginjak pendidikan di universitas. Aku memilih untuk ngekost bersama temanku di dekat tempat kuliahanku. Selain bisa menghemat waktu untuk pergi ke tempat kuliah. Aku bisa menghindar dan menjauh dari keluarga baruku. Di kost’an bertahun-tahun aku menjalani kebiasaan buruk itu. hingga pada suatu saat aku bertemu dodi, dialah teman kuliahku. Walaupun kita ada di posisi yang sama. Tapi hidup dia jauh lebih baik dariku. Hidupnya pun lebih berwarna dariku. Kemudian aku bertanya kepadanya “dod, lu kok bisa bahagia sih? padahal nasib kita kan sama, sama-sama jadi anak broken home.” Dodi hanya tersenyum dan menceramahiku “Ton, lu harus tau, nasib kita tuh gak seberapa dibanding orang lain. Buka lebar-lebar mata lu! Di luar sana banyak anak yang sama sekali gk punya orang tua. Nah, sedangkan kita, kita masih punya orang tua. Walaupun gk sepenuhnya orang tua kandung, tapi semestinya harus bersyukur masih ada yang peduli hidup kita. Bayangin kalau lu ada diposisi mereka! masih mau protes... Lu punya agama? Tanya Dodi. “punya!” jawab toni. Sekarang daripada lu foya-foya gak jelas. Mending lu coba dekatkan diri pada tuhan YME. Dijamin hidup lu gk bakalan kosong, hidup lu pasti lebih berwarna!” Pungkas Dodi. Hingga sejak saat itu, aku mencoba untuk merubah segala kebiasaan buruk dan lebih mendekatkan diri kepada allah SWT. Ku biasakan untuk memperbanyak ibadah kepada allah dan membiasakan diri untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Sejak itu pun aku jadi aktif dalam berbagai organisasi. Semua itu aku lakukan hanya untuk mengalihkan kebiasaan burukku menjadi lebih bermanfaaat. Hidupku pun berubah 180 derajat. Hidupku terasa lebih berwarna. Tidak ada lagi yang namanya kesepian. Aku mulai mengenali lagi apa itu arti kebahagiaan. Termakasih Ya Allah. aku sangat bersyukur kau telah mempertemukanku dengan dodi. Dialah penyelamat hidupku. dia adalah sahabat terbaik di dunia. Aku sangat berhutang budi padanya. Sejak hari itu pula, aku berusaha untuk menerima keadaan. Aku mencoba untuk bisa beradaptasi. Mencoba untuk mencintai keluarga baruku. Aku senantiasa untuk lebih dekat dengan keluarga. mencintai dan mengasihinya dengan segala kekurangan dalam hidupku. dan ternyata rencana ku berhasil. Aku tidak lagi dicampakkan keluargaku. Aku sangat menyesal telah melakukan ini sejak lama. Aku malah meninggalkan mereka. Aku sangat meminta maaf kepada keluargaku, sebenarnya aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Mereka selalu mengkhawatirkankku. Namun karna sikap ketidakpedulianku aku tidak menggubris kekhawatiran mereka. Aku mengucapkan beribu maaf kepada kalian berdua! Aku pun berlutut dihadapan ayah, sembari menangis aku memohon kepada ayah agar aku bisa bebas bertemu ibu kandungku. hingga akhirnya hati ayah pun terenyuh. Dan memperbolehkanku untuk bebas bertemu ibu kandungku kapanpun dan dimanapun. dimulai dari sejak itu, aku sering mengunjungi rumah ibu, bahkan sebaliknya. Sekarang hidupku benar-benar seperti remaja-remaja lain. Tidak ada lagi kekosongan dalam hidupku. Aku tidak tau saja mengapa engkau memutuskan untuk menikah lagi. Aku tidak tahu kalau ayah menikah lagi hanya karna takut aku kesepian. Karna sehari-hari ayah selalu berangkat pagi pulang malam. Tiada waktu untuk menjaga dan menemaniku, maka dari itulah ayah menikah! Untuk kesekalian kali. Aku minta maaf yah, aku telah berburuk sangka kepadamu. Diriku tidak salah memilihmu sebagai tujuan hidupku. Aku sangat bersyukur! Untuk kalian di luar sana, ingatlah bahwa kalian masih memiliki kedua orang tua, mungkin kedua orang tua kalian telah berpisah, tak lagi tinggal di satu rumah. Tapi, cinta mereka akan terus mengalir untuk kalian. Kalian masih memiliki mereka sebagai orang tua kalian. Kasih sayang mereka pun akan tetap tercurah untuk kalian .Jangan lagi menganggap hidup kalian tak utuh. kalian harus meyakinkan diri kalian bahwa kalian kuat dan mampu dalam menghadapi persoalan ini. Bukankah sudah cukup kalian melihat mereka terbebani dengan masalah mereka? Apa kalian ingin melihat kedua orang tua kalian bersedih lalu juga terbebani karena kalian? Janganlah kalian terus menerus bersedih. Ingatlah bahwa setelah kesedihan, akan datang kebahagiaan. Mungkin air mata kalian, nantinya akan berubah menjadi senyuman. Perceraian kedua orang tua kalian, bukanlah akhir dari hidup kalian, melainkan awal yang baru bagi kalian, untuk mendorong kalian untuk hidup lebih baik di masa depan. Yakinlah, bahwa Tuhan takkan menguji hambanya jika Tuhan tak yakin hambanya mampu menghadapinya. Kalian diuji karena Tuhan yakin kalian mampu menghadapinya. Semangat!
Cerpen Karangan Nadya DasatzhaKategori Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih Lolos moderasi pada 14 January 2015 Nia seorang gadis yang berumur 14 tahun ini mempunyai seorang adik yang berumur 5 tahun, keseharian nia memang tak terlalu sibuk sehingga dia lebih sering di rumah. Memang hubungan ibu dan ayahnya nia tidak cukup baik, dengan ekonomi yang kurang mencukupi, emosi yang susah dikendalikan membuat ayah dan ibu nia sering bertengkar setiap malam, sehingga nia terbangun dari tidurnya. Nia merasa tertekan, ingin cerita tapi tak tahu dengan siapa. Adiknya? Adiknya tak mengerti apa apa. Tak seharusnya nia merasakan serpihan dari pertengkaran orangtuanya, nia hanya bisa berdoa agar ayah dan ibunya tak bertengkar lagi Tak lama kemudian nia mendengar bahwa ayah dan ibunya akan segera cerai. Nia menangis, batinnya terasa dicabik-cabik, tak sepantasnya nia merasakan itu, nia sangat tertekan, dia menangis dan berdoa semoga ini hanyalah mimpi. Namun beda hasilnya, kini semenjak pertengkaran ayah dan ibunya selama ini membuat ayah dan ibu nia memilih terpisah Nia hanya bisa pasrah, walaupun batinnya tersiksa, namun kini nia hanya bisa berdoa, semoga ayah dan ibunya kembali lagi. Cerpen Karangan Nadya Dasatzha Facebook Nadya Dasatzha Saya Nadya umur 13 tahun saya sekolah di SMPN 105 Jakarta kelas 84 saya kelahiran Jakarta, 22 september 2000 hobi saya membuat cerita dan bernyanyi Cerpen Broken Home merupakan cerita pendek karangan Nadya Dasatzha, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Kisah Seorang Anak Yang Cacat Oleh Vindia Arini Mengapa sampai saat ini Ibuku malah semakin sayang pada saudara tiriku. Sedangkan aku? Sepertinya dibuang, Ibuku tidak memperhatikanku lagi, makan pun aku harus mengambil sendiri dengan keadaanku yang seperti Kehidupan Yang Kedua Oleh Sri Rahayu Kuterdiam dalam kegelapan, kuhidup dalam kesunyian dan kuberlari dalam angan, benda benda yang menempel di tubuhku taklagi dapat kurasakan. Kutapaki lorong panjang yang tiada ujung. Lelah rasanya menentukan langkah Akhir Penyesalan Oleh Shavia Maulidina Warna merah merona memancar di ufuk timur, semilir angin bernuansa sejuk berhembus. Mangrove kecil mulai menampakkan tunasnya. Dentuman ombak bertabuh ditengah gemercik suara aliran air. Aroma khas garam menyebar Komplotan Teroris Azabal Oleh Shalwa Syahrika Zachra Namaku Ashara. Hari ini aku akan pergi ke hotel. Tepatnya The Edge Semarang. Bersama ayah, ibu, dan saudara kembarku yang bernama azahra. Dia lebih lambat lahir 5 menit dari Pengorbanannya Tak Sia Sia Oleh Charissa Namanya Dira Natania. Ia biasa dipanggil Natan. Natan termasuk orang miskin. Ia kelas V. Bersekolah di sekolah elit. Itu pun dengan beasiswa. Ia mempunyai sahabat sejati. Namanya Gabriella Hanifah/Abril, “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Home » Cerpen » [Cerpen] Broken Home - Ayu Fitriani Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang nyaman, harmonis dan juga mendapat kasih sayang dari orangtua. Namun, mengapa aku tidak pernah bisa memiliki kehidupan itu. Tak pantaskah aku mendapatkannya? Sesungguhnya, sebuah kasih sayang dari orang tua tak akan bisa tergantikan dengan apapun. Aku yakin Allah merencanakan semua ini adalah yang terbaik buatku dan juga keluargaku. Semoga dengan aku menceritakan semuanya bisa membuat perasaan ini jauh lebih baik dan tak akan ada kesedihan lagi di hari-hari yang akan aku jalani. Perkenalkan namaku adalah Hanyfah. Aku akan menceritakan pengalamanku yang menyedihkan ini sama kalian semua semoga ini tidak akan pernah terjadi buat yang membacanya. Aminnn…. Entah darimana aku harus memulai ini semua, Seorang ibu yang terus bersabar mengadapi sebuah cobaan yang tidak bisa aku bayangkan membuatku setiap hari harus menangisi keadaan ini. Aku benci keadaan ini. Aku benci diriku sendiri yang lemah. Aku membenci Ayah yang tak pernah bisa mengerti perasaan ibu mengapa Ayah harus menuruti permintaan nenek yang membuat keadaan ini semakin rumit. Mengapa nenenk setega ini memisahkan Ayah dengan Ibu. Aku gak habis fikir semua yang ada di rumah ini harus menjadi orang yang gak punya perasaan sama sekali. Aku juga mempunyai seorang kakak, tapi percuma aku punya seorang kakak yang hanya membahagiakan dirinya sendiri, menjadi leleki yang selalu membuat situasi ini tak akn pernah berakhir dari pertengkaran. Harusnya kakak tau keluarga kita sedang berantakan tapi masih sempat-sempatnya kakak memikirkan dirikakak sendiri dibanding adik yang selalu disalahkan di hadapan Ayah. Aku benci semuanya. Aku tahu ibu memang wanita yang tak sempurna dia mempunyai kekurangan gak bisa berjalan seperti wanita normal, tapi apakah mereka harus berpisah rumah seperti ini dan ayah harus meninggalkan ibu dalam keadaan yang tak berdaya ini. Saat itu, aku dan ibu sedang memasak dan saling bercerita. “ Ibu, maafkan aku jika aku harus lahir kedunia ini dan membuat keadaan ini tak pernah membaik, aku tau ibu selalu sedih dan terpukul saat Ayah ingin menceraikan ibu, maafkan aku ibu”? Menangis dan memeluk ibu. “Nak, kau jangan pernah berbicara seperti itu, Kamu adalah anak ibu yang dianugrahkan dari tuhan untuk melengkapi keluarga ini. Ayah, munkin bersikap seperti itu karana dia tidak bisa menerima ibu seperti wanita yang sempurna.” Mencoba terlihat tegar dihadapanku. “ Ibu, bagiku kau adalah wanita yang sempurna yang pernah ku miliki. Mengapa ayah jahat sama kita, apakah ayah udah gak sayang lagi sama kita”? terus menangis. “ Ayah tidak jahat sama kita nak, ayah sayang sama kita.” Kata ibu meyakinkanku. “Lalu mengapa kalo ayah sayang sama kita, ayah harus memilih berpisah ruamah. Aku benci sama ayah.” Dengan nada yang keras hingga terdengar ayah saat lewat. “Apa! Kamu membenci ayah, berani-beraninya kau mengatakan itu pada ayah!”.kata ayah dengan nadak kasar dan marah. “ Ayah, kenapa ayah tega melakukan semua ini sama salah ibu ayah sampai ayah membuat ibu menangis, ibu sangat mencintaimu dan menyayagimu tapi apa balasanmu ibu, kau hanya pada membuatnya sakit hati dan menangis.” Kataku dengan kesal. “ Ayah melakukan semua ini demi kebaikan kita semua. Kamu harus tau itu Hany.” Dengan nada menenangkanku. “ Sudahlah hany ibu tidak apa-apa kalau memang itu yang terbaik buat keluarga kita,ibu tak keberatan dan kamu Ayah sebaiknya kita memang lebih baik berpisah agar kau lebih tenang dengan hidupmu.” Sedikit kesal dan terus menangis. Lalu akupun berlari masuk kekamar denan terus menangis tanpa henti dan berkata “ Aku benci sama ayah”! Hingga aku tak mampu menahan beban yang ku hadapi ini. Semakin lama semakin tak mampu untuk aku hadapi bagaimana mungkin aku harus menerima ibu tinggal bersama kaka dan aku harus tinggal bersama ayah. Aku ingin keluarga kita utuh seperti dulu lagi manjalani masa-masa yang indah dengan canda tawa yang tak bisa tergantikan dengan apapun. Saat itu aku mendengar ayah bersama ibu bertengkar di ruang tamu dan aku berada di kamarku. “kamu bukanya sebagai ibu mengajari anakntya dengan sopan santun malah membuatnya membenci ayahnya sendiri, ibu macam apa kamu ini!” dengan nada kasar. “Harusnya kamu sebagai ayah yang bertanggung jawab di keluarga ini lebih mengutamakan anakmu dibanding memilih untuk berpisah. Apa kau tak kasian dengan mereka yang setiap hari mendengar kita berantem seperti ini!”. Menangis tanpa henti. Lalu aku pun sudah takuat lagi mendengar mereka bertengkar setiap hari akau malu dengan teman-temanku mereka selalu bahagia yang selalu menyayagi mereka, tapi kenapa aku gak memilikinya, semua ini gak adail. Aku pergi keluar dan menghentikan pertengkaran ayah dan ibu. “Berhenti! Apa kalian ini tak malu dengan anakmu yang terus melihat kalian seperti ini. Apa kalian belum cukup membuatku menangis harus menahan rasa kekecewaan ini,mungkin ayah dan ibu bahagian denan keadaan ini tapi aku gak sama sekali ayah,ibu. Aku ini anak kalian harusnya kalian memberikan contoh yang baik kepada anaknya bukanya seperti ini. Tak mengertikah kalian dengan perasaanku.” Menangis dan sangat kecewa. “Lihat itu anak kamu. Hany terlalu kecil untuk menerima ini semua apakah kau tega memeisahkan aku dengannya.” Kata ibu dengan tegas. “ Aku memang memisahkan kalian. Aku tidak mau mempunyai seorang istri yang lumpuh seperti kamu! Tidak bisa merawat anak kita dengan baik karena kau tak bisa berjalan. Sebentar lagi aku akan menceraikanmu dan mencari ibu yang mamapu membuat hany bahagia.” Kata ayah dengan penuh amarah. “Diam! Tidak bisakah kalian diam. Semua ini membuatku tersiksa. Ayah, apa ayah tidak mempunyai perasaan dengan ibu, sehingga kau mampu untuk melupakannya dan memutuskan untuk menikah lagi. Baiklah ayah ceraikan ibu! Lebih baik ayah menceraikan ibu dari pada ibu menahan sakit hati yang begitu dalam. Aku benci ayah!”. Menangis dan keluar dari rumah. “Hany, kau mau kemana nak? Jangan dengarkan ayahmu dia hanya bercanda,kembalilah nak?” berlari mengejarku. “ Aku tak mau punya ayah yang gak punya perasaan. Biarkan akau pergi untuk sementara waktu untuk menenangkan hati ini ibu. Maafkan aku.” Pergi dan terus menangis sepanjang jalan. Setelah kejadian itu, aku menjadi anak yang Broken Home dan terus menjalani kehidupan yang sering kali aku tak bisa berfikir positif. Setiap hari aku disekolah menjadi anak pendiam, nilai pelajaranku turun semua kehidupan ku menjadi berantakan. Hingga aku memutuskan untuk pergi jauh dari rumah agar aku tak mendengar pertengkaran yang membuatku tak tahan untuk tinggal dirumahku sendiri. Sebenarnya ku tak ingin melakukan ini semua tapi aku tak tahan dengan semua yang aku hadapi aku menjadi korban dalam pertengkara ibu dan ayah. Ibu maafkan aku melakukan ini aku telah menjadi anak yang tidak berbakti kepada orangtua, aku berjanji dengan kepergianku ini aku akan menjadi anak yang baik dan aku akan kembali setelah aku bisa membalas semua jasamu. Akau ingin membahagiakanmu dan memberikan yang terbaik untuk ibu. Semoga ibu disana baik-baik saja. Ayah, aku tahu ayah malu dengan keadaan ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi tak seharusnya kau tega menceraikan ibu dan mencari wanita lain yang jauh lebih sempurna dari ibu. Ayah harus tahu ibu sangat mencintai ayah seperti aku mencintai ayah. Semoga dengan kepergianku ini kalian bisa memikirkan hidup kalian masing-masing. Suatu saat nanti aku akan kembali untuk kalian. I Love you Ded, I love you Mom, Your My Everything…….. Selesai...
Hai namaku adalah Tasya, lebih tepatnya Natasya Clara Audya. Aku hanyalah seorang anak kecil yang sangat membutuhkan kasih sayang kedua orang tua, anak kecil yang selalu ingin mendapat perhatian lebih dari seorang ibu dan ayah, Anak kecil yang... yang.. yang.. dan seterusnya akan tertulis tentangku. Prangg!!!! suara pecahan kaca itu kembali terdengar. Bukan hal biasa lagi bagiku dengan kejadian yang hampir setiap hari terjadi. aku kembali meletakkan kepalaku pada lipatan tangan yang kubuat di atas lutut, merasakan sesak yang setiap saat aku rasakan, tanpa disuruh air mataku mengalir deras membasahi pipi. Aku tersenyum menutupi sesak yang terus menggebu dalam dada, memejamkan mata dan mencoba mengabaikan suara teriakan ayah, ibu, dan pecahan kaca. Berharap akan keindahan dalam mimpi, Bermain main dengan harapan semu walau hanya sementara, melupakan sejenak pertengkaran orang tua dan berharap saat aku terbangun tidak ada lagi pertengkaran dan akan merasakan kasih sayang orang tua yang selama ini aku harapkan. Memang sempat aku berfikir, untuk apa Allah menyatukan kedua orang tuaku kalau pada akhirnya akan menimbulkan luka pada ku yang mungkin tidak akan bisa untuk di lupakan. Fungsi Keluarga yang seharusnya bisa menjadi tempat berbagi kasih sayang, saling melindungi tetapi itu sudah tidak lagi berfungsi dalam keluargaku Namun aku akan selalu ingat akan pesan alm nenekku. Sejahat apapun, sekejam apapun, mereka akan tetap menjadi kedua orang tuamu, orang yang menjagamu dari kecil, merawatmu, dan tidak ada yang namanya mantan ibu ataupun ayah di dunia ini. Menjadi anak dalam keluarga broken home menjadikanku pribadi yang lebih kuat, lebih mandiri. Allah, rangkul tasya selalu, pegang tanganku, jangan kau lepaskan dan kuatkan aku apapun yang terjadi
Cerpen Karangan MaretaKategori Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih Lolos moderasi pada 23 August 2013 Pagi itu aku di beri tau oleh orang tuaku tentang rencana perceraian mereka. Aku tak tau kenapa mereka mau bercerai… Padahal mereka akur akur saja selama ini “jadi gimana nis, gakpapa kan papa dan mama bercerai?” tanya orangtuaku “ya gakpapa” kataku… Sebenarnya aku gak mau mereka bercerai.. Tapi, aku sudah biasa menyimpan semua masalahku untuk diri sendiri. “oke.. 1 minggu kamu di papa.. Satu minggu kamu di mama ya..” kata papaku “iya.. Terserah..” kataku pura pura cuek “oke.. Papa dan mama pergi dulu ya nisa.. Baik baik di rumah.” kata mamaku sambil bergegas pergi “iya mam.. Hati hati di jalan.. Papa juga..” kataku sambil melambaikan tangan. “iya.. Makasih ya nisa..” kata mamaku sambil mecium keningaku dan pergi. “iya..” kataku. Mama pun pergi dengan papa.. Sebenarnya aku sangat sedih.. Aku sangat sangat sedih.. Tapi, apa gunanya? Apa kalau aku sedih, papa dan mama gak akan bercerai? Konyol banget.. Tapi, tanpa terasa, air mataku berjatuhan.. “hiks… Apa apaan ini? Kenapa aku menangis?” kataku sambil menghapus air mataku. Aku pun pergi dari ruang keluarga ke taman belakang rumahku.. Di sana ada sahabat terbaik ku.. Yaitu kura kura. Aku memiliki 1 kura kura, aku memelihara sudah 5 tahun, gak tau kenapa, aku merasa aku punya hubungan batin dengannya.. “hei..” kataku sambil menangis. Kura kura ku yang sedang berenang langsung perlahan mendekatiku dan melihatku dengan dalam.. Aku merasa sangat sedih.. Aku langsung menangis dengan sekeras kerasnya.. Kura kura ku pun semakin mendekatiku dan menggerakan tangannya.. Dia seperti ingin memegang tanganku atau memelukku.. “hiks… Hiks… Kenapa? Kenapa mama dan papa ingin bercerai.. Apa kamu tau? Apa kamu juga sedih jika mereka bercerai? Seandainya kamu bisa berbicara, mungakin aku akan sedikit bahagia untuk berada di dunia ini.. Hiks..” kataku sambil menangis Kura kura ku semakin memperhatikanku.. Seperti dia mengerti semua perasaanku.. “kura kura… Aku sayang kamu.. Kamu satu-satunya teman sejati aku… Setiap aku sedih atau senang, kamu selalu ada.. Terima kasih ya, hiks..” kataku masih menangis.. “akhh! Aku gak boleh menagis! Lagian kalau papa dan mama bercerai, itu semua akan tetap sama! Aku akan tetap bisa bersama papa dan mamaku.. Bener gak?” kataku menghibur diri sendiri.. Beberapa minggu kemudian “ini.. Calon ayah baru kamu.. Dia baik loh..” kata mamaku sambil menggandeng tangan seorang lelaki. “o.. I.. Iya salam kenal” kataku “iya! Salam kenal.. Panggil om papa ya..” kata om itu “i.. Iya” kataku “eh nisa, mama dan papa baru mau pergi dulu ya.. Baik baik di rumah..” kata mamaku “iya ma..” kataku. Mama pun pergi bersama om dimas.. “aku gak kuat! Aku kira mereka gak akan menikah lagi! Aku kira mereka hanya berpisah! Aku benci!” kataku sambil menangis Sejak hari itu, kehidupan ku menjadi semakin suram dan semakin suram lagi. Aku stress! Aku capek! Aku sedih! Aku gak terima dengan semua ini. Dan aku memutuskan untuk pergi kabur dari rumah. Aku pun menyiapkan surat untuk mama dan papa asli ku.. “aku akan pergi.. Setidaknya aku akan lebih bahagia!” kataku sambil menuju ke taman belakang untuk menjumpai sahabat ku.. “hei.. Aku akan pergi dari rumah ini. Maaf, aku gak bisa bawa kamu.. Aku takut gak bisa ngasih makan kamu.. Aku ingin kamu di sini dan tumbuh besar… Semoga kamu baik baik aja ya..” kataku sambil memegang kura kura ku.. “hiks… Aku pasti merindukanmu!” kataku sambil langsung pergi.. Di jalan Di sepanjang perjalanan aku terus berfikir bagaimana aku bisa hidup.. Di mana aku tinggal. Selain itu aku masih memikirkan tentang mama dan papaku.. Tiba tiba “tettt..” Suara klakson mobil mengagetkan lamunanku.. “hei! Kalau jalan lihat-lihat!” kata pengemudi itu dan langsung kembali menjalankan mobilnya.. “ma.. Maaf..” kataku Aku pun terus melanjutkan perjalanan.. Aku melihat berbagai orang di jalanan.. Ada yang pincang, ada yang matanya buta, ada yang mengemis di jalanan.. Ada anak anak miskin yang ngamen dan lain lain.. Tiba tiba, aku teringat oleh betapa enaknya hidup ku di rumahku yang dulu. Kenapa aku tak bersyukur oleh semua yang di berikan tuhan padaku? Tuhan cuma memberi sedikit ujian bagiku.. Tapi, mengapa aku langsung menyerah dan pergi? Kenapa selama ini aku selalu sebodoh ini? Setelah memikirkan semua itu, aku langsung pergi ke toko bunga untuk membeli bunga mawar untuk mama dan papaku.. Aku akan meminta maaf pada mereka. Setelah membeli bunga mawar, aku menyobekkan kertas untuk papa dan mama ku yang bertuliskan papa, mama maafkan aku, aku selama ini selalu tak bersyukur dengan apa yang tuhan berikan padaku.. Mama, papa terimakasih banyak..’ isi suratku pada mama dan papaku yang langsung aku selipkan di bunga mawar itu.. Lalu aku pun segera bergegas pergi kembali ke rumah… Tapi, tiba tiba. “tittt” Suara klakson mobil yang langsung menabrakku “mama, papa, rasanya tertabrak sakit sekali! Aku merasakan tubuhku sangat sakit! Mama, papa, aku cinta kalian.. ” Di lain tempat “nisa… Ayo makan dulu..” panggil mamaku.. Tapi, mama tak mendengar aku menyahut panggilan mamaku. “nisa…” kata mamaku “pah papa baru, nisa kok gak nyahut ya?” tanya mamaku mulai khawatir “mungakin ketiduran kali mah.. Udah biarin aja..” kata om itu “nggak. Mama merasa perasaan yang gak enak. Mama akan ke kamar nisa” kata mamaku sambil tergesa gesa pergi ke kamarku.. Beberapa menit kemudian “hiksss!” tangis mamaku setelah kembali dari kamarku.. “ma, kenapa? Ko nangis?” tanya om “i.. Ini.. Nisa kabur dari rumah.. Ini suratnya.. Hikss..” kata mama sambil memberi surat nya pada om dimas ” papa, mama. Aku sayang kalian.. Tapi, aku gak tahan… Aku gak bisa hidup dengan orang yang gak aku kenal.. Yaitu om dimas.. Sebenarnya, aku gak mau mama dan papa bercerai.. Tapi, aku gak bisa ngomong tentang itu.. Mama, nisa pergi dari rumah ya.. Mungakin setelah mama baca surat ini, nisa akan pergi selamanya dari rumah ini..’ isi surat nisa.. ” “ma, tenang, kita harus cari nisa sekarang” kata om “i.. Iyaa hikss” jawab mama masih sambil meangis Mama dan om dimas pun pergi mencari nisa, setelah beberapa lama mencari, mereka melihat ada ramai ramai orang berkumpul.. “pah, itu ada apa?” tanya mamaku “gak tau mah.. Kita lihat aja ya..” jawab om dimas sambil keluar dari mobil Lalu, mereka pun menghampiri kerumunan itu.. Setelah mama melihat korban kecelakaanya, dia sangat terkejut dan tak bisa bersuara… Rasanya seperti tercekik! Lututnya tiba tiba lemas dan jatuh! Dia menangis tanpa mengeluarkan suara! Ternyata yang di lihatnya itu, seorang anak, yang darahnya bercucuran! I.. Itu adalah nisa! “n..nisaaa! ” teriak mama langsung memeluk ku.. “n…nisaaa! Maafkan mama sayang… Bangun sayang.. Mama sayang nisa… Nisa jangan tinggalkan maaamaa..” jerit mamaku histeris “papa! Cepat bawa nisa ke rumah sakit! Cepat! Hiksss” kata mama sambil terus menangis histeris Di rumah sakit “gimana dok? Nisa gimana?!” tanya mamaku pada dokter “ibu, kami turut berduka.. Kami telah berusaha sekuatnya.. Tapi, nyawa nisa tak terselamatkan..” jawab dokter “a.. Apa?! Dokter bohong! Dokter bohong! Nisa gak mungakin meninggal! Nisa masih hidup!” jerit mamaku sambil menangis tambah histeris.. Mama pun langsung masuk ke ruangan itu, dia melihat tubuh nisa yang lemah berbaring.. Dia pun langsung memeluk nisa “nisaaa… Mama di sini nak.. Mama di sini… Nisa gak boleh tinggalin mama… Nisa harus sama mama di sini..” kata mamaku sambil terus menangis.. “ibu, di kejadian, kami menemukan mawar ini di tangan anak ibu..” kata polisi tiba tiba Polisi itu pun meyerahkan bunga itu pada mamanya nisa Setelah menerima bunga itu dan suratnya, mama semakin menangis.. “nisa… Bangun nak.. Mama sayang nisa.. Hiksss..” jawab mama sambil mencium kening nisa.. Tapi, tiba tiba, nisa menggerakkan jarinya.. “ni.. nisa? Dokter! Dokter!” kata mama sambil memanggil dokter “dokter.. Tadi anak saya menggerakan jarinya!” kata mamaku “sebentar bu, kami cek dulu.. Ibu silahkan keluar dulu..” kata dokter Setelah beberapa menit, dokter keluar dan mengatakan “bu, ini sebuah mukjizat! Kasih sayang dan cinta ibu mampun membuat nisa kembali lagi ke dunia ini..” kata dokter “be.. Benarkan dok?” tanya mama “iya, tapi badan nisa masih dalam keadaan sangat sangat lemah, jadi sebaiknya cuma ibu dan ayahnya saja yang menjenguknya..” jawab dokter “ba.. Baiklah dok, terimakasih..” jawab mama. “pah, ayo masuk! Kita jenguk nisa!” ajak mamaku.. “tunggu, aku bukan papa kandungnya nisa, sebaiknya kamu menjenguk nisa dengan papa kandungnya.. Agar nisa lebih cepat untuk pemulihan..” jawab om dimas Tiba tiba datang papa kandung nisa untuk menemui nisa.. “ma… Eh, gimana kabarnya nisa? Apa dia baik baik saja?” tanya papaku khawatir “iya, nisa baik baik saja setelah mendapat ciuman di kening dari ibunya, lebih baik kalian kembali bersatu, aku gak mau kejadian ini terulang 2x. Aku akan pergi..” jawab om dimas.. “di.. Dimas?” tanya papaku “aku harus pergi..” jawab om “te… Terimakasih..” jawab mamaku “iya… Sama sama..” jawab om dimas sambil pergi Setelah kejadian itu, papa dan mama merawatku hingga aku sembuh, selama itu, cinta papa kepada mama dan sebaliknya pun mulai tumbuh lagi dari mereka berdua, mereka kembali bersatu. Aku papa dan mama pun kembali menjadi keluarga yang bahagia === the end === Cerpen Karangan Mareta Facebook Mareta Shiva Halo! Aku penulis baru! Semoga kalian suka dengan cerita ku ya!! Cerpen Broken Home Is Test For You merupakan cerita pendek karangan Mareta, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Sebuah Pertemuan Oleh Dhimas A. Bhagastama Ya Tuhan, kenapa hidupku seperti ini? Kenapa aku tak bisa seperti mereka yang bisa asyik bermain sedangkan aku tidak?” Ujar Andi saat beristirahat di bawah pohon setelah seharian mengorek-orek Bintang Yang Memudar Oleh Rheina Hanifah Bintang Ranatasya, sosok gadis remaja yang dipaksa kuat oleh keadaan, dipaksa dewasa oleh keadaan, dipaksa selalu tegar oleh keadaanya. Lahir dari keluarga yang kurang harmonis, sejak dulu Bintang sudah Tak Terasa Jerih Hari Ini Oleh Y. Nurafifah Di balik rumah megah berpagar besi terdapat rumah kayu berkelilingan pohon kelapa dan mangga. Rumah kayu sederhana yang masih layak pakai itu dihuni oleh Pak Aleh dan putrinya Alin. Ada Namun Seperti Tiada Oleh Anita Setiawati Semilir angin sore memang sangat sejuk, tak ayal banyak sekali dari anak-anak sampai lansia keluar rumah saat sore hari. Akupun menjadi salah satunya. Sekian lama tidak keluar rumah, aku Adikku Sayang Oleh Fathiya Hasna Khairunisa “Ah..” ucapku geram melihat buku ceritaku dirobek-robek oleh adikku, Erita. “Ada apa sayang?” bunda menghampiriku dan Erita. “Ini Bun, buku Kakak dirobek-robek sama Erita,” aku segera berlari ke kamar “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?†"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
cerpen panjang tentang broken home