cerpen mimpi karya putu wijaya
UnsurEkstrinsik Cerpen "Kucing" a. Biografi Pengarang Putu Wijaya yang kita kenal sebagai sastrawan mempunyai nama yang cukup panjang, yaitu I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Dari namanya itu dapat diketahui bahwa ia berasal dari Bali. Putu memang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944.
PutuWijaya - Sastrawan Serba Bisa Ia sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Cerpen Karya Putu Wijaya (Cantik) Gubernur marah besar. Panitia pemilihan Ratu Kecantikan 2008 dipanggil. Mereka dicecer dengan berbagai pertanyaan. Mengapa dari 9 wanita
21 Cerpen. Judul cerpen : Peradilan Rakyat. Tahun terbit : 2003. · Biografi Pengarang. Pengarang : Putu Wijaya. Ia sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga menulis skenario film dan sinetron. Sebagai dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan
PutuWijaya telah menulis karya sastra dalam jumlah yang besar, baik dalam bentuk drama, novel, cerpen, maupun puisi. Beberapa drama yang ditulis Putu Wijaya, antara lain, (1) Lautan Bernyanyi, 1967, (2) Anu, 1974, (3) Aduh, 1975; (4) Dag Dig Dug, 1976, (5) Edan, 1977, dan (6) Gerr, 1986. Cerpen suap karya Putu Wijaya patut untuk dibaca
Jenisaparatus yang ditemukan dalam tiga cerpen karya Putu Wijaya, i aparatus represif negara RSA yang terdiri dari aparat kesehatan, aparat penguasa pemerintah, dan aparat keamanan, ii
Danke Dass Wir Dich Kennenlernen Durften. Cerpen Karangan Dhea KartikaKategori Cerpen Remaja Lolos moderasi pada 17 March 2016 Regina Cantika, atau yang biasa dipanggil Gina, merupakan siswi SMP Pelita, salah satu SMP swasta elit di Jakarta. Gina adalah seorang gadis berwajah manis, cukup pintar, dan ramah kepada semua orang. Namun, Gina memiliki satu kekurangan. Ia tidak tahu apa potensinya dan sedikit pemalu. Gina memiliki sahabat yang bernama Chyntia Anastasia. Berkebalikan dengannya, Chyntia selalu yakin atas apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Chyntia juga tidak pemalu seperti Gina. Mungkin, ini sebabnya kedua spesies ini awet bersahabat sejak kelas 5 SD. Mereka saling melengkapi satu sama lain. “Ya, anak-anak, hari ini kita membuat puisi, ya. Tema bebas. Nanti, puisinya ibu jadikan buat nilai tugas. Siapkan selembar kertas ulangan,” ujar Bu Pudji, guru Bahasa Indonesia kelas 7-4, kelas Gina dan Chyntia. Perintah dari Bu Pudji itu menimbulkan kasak-kusuk di antara para penghuni kelas 7-4. Cuma satu anak yang tetap tenang si bangkunya. Anak itu adalah Gina. Ia memang terkenal sebagai “Ratu Puisi.” “Pstt… Gin. Bikinin, dong. Mati ide gue. Bu Pudji ada-ada aja, sih. Ngapain coba, nyuruh kita bikin puisi segala? Gak jelas, deh,” keluh Chyntia yang duduk persis di belakang Gina. “Lo kalau mau nulis puisi harus ke luar dari hati. Jangan dari otak lo,” sahut Gina. “Eh, Dodol! Lo enak ngomong gitu! Lo udah biasa bikin beginian. Makanya, Chris suka sama lo,” balas Chyntia, sambil meledek Gina. Wajah Gina memerah mendengar ledekan Chyntia. “Apaan sih, lo?” sahutnya. “Chyntia, Gina, jangan ngobrol. Nanti gak selesai,” tegur Bu Pudji. “Maaf, Bu,” sahut Chyntia dan Gina berbarengan. Mereka langsung fokus pada puisi masing-masing. — KRING!!! Bel istirahat berbunyi nyaring. Bel kali ini seperti nyanyian malaikat yang sangat indah bagi siswa kelas 7-4. Mereka akhirnya bebas dari jam Bahasa Indonesia. Sesuai janjinya, Bu Pudji mengumpulkan puisi-puisi mereka untuk dijadikan nilai tugas. “Ginaaaaaa!! Temenin ke kantinnnn!!” seru Chyntia memanggil Gina. Gina, yang memang sudah terbiasa dengan sikap heboh Chyntia, hanya mengangguk mengiyakan. “Hai, Gin,” sapa Chris pada Gina, sekembalinya ia dan Chyntia dari kantin. Gina hanya menanggapi dengan senyum. Menurut kabar yang beredar, Chris yang bernama lengkap Christian Marcelino itu sebetulnya udah lama naksir Gina. Tapi, dia malu buat PDKT. “Gina doang, nih, yang disapa? Gue enggak?” kata Chyntia sambil memasang muka sedih. Chris tertawa kecil sebelum berkata, “Hai, Chyntia.” “Hai juga, Chris. Tadi dicariin Gina, loh,” sahut Chyntia dengan mimik centil. Gina memelototinya. Chris pura-pura tidak dengar dan tertawa kecil. “Gue ke kelas dulu, ya. Dadah,” katanya sambil masuk ke kelas 7-5, yang terletak di sebelah kelas 7-4. “Lo gila, ya?! Malu-maluin gue aja,” kata Gina sok galak. “Huahaha!!! Lagian lo berdua lucu, sih. Yang satu sok malu-malu kucing. Yang satu lagi malah berlagak nggak mudeng. Emang lo gak sadar, ya, Chris suka sama lo?” tanya Chyntia. “Yah.. sebenernya, gue juga sadar. Tapi, gue mesti gimana? Teriak-teriak di tengah koridor, gitu?” sahut Gina, sambil menyindir Chyntia, yang sering teriak-teriak di kelas. Yang disindir cengengesan. “Gue juga tahu kalau lo juga suka sama dia,” katanya dengan nada sok tau. Ditatapnya Gina. “Kita, kan, sahabatan udah sejak jaman purba. Jelas gue tau apa yang lo pikirin, Gin,” lanjutnya lugas. Gina terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, “Sebenernya, gue emang suka sama dia. Tapi, udahlah, gak usah dibahas. Mending makan aja, yuk. Lima menit lagi bel, tuh,” katanya sambil menunjuk jam tangannya. — Seminggu kemudian. Gina berjalan memasuki sekolah dengan santai, saat tiba-tiba Cecilia, ketua kelasnya mencegatnya. “Gin, lo dipanggil Bu Pudji di ruang guru. Katanya penting tuh,” kata Cecil. “Hah? Oh, iya. Gue taro tas dulu ya. Thanks,” jawab Gina. “Yoi,” sahut Cecil. Setelah menaruh tas di kelas, Gina meluncur ke ruang guru dan menemui Bu Pudji. Chyntia belum datang, jadi Gina ke ruang guru sendirian. “Pagi, Bu. Ibu manggil saya?” tanya Gina setelah berhadapan langsung dengan Bu Pudji di ruang guru. Bu Pudji tersenyum, sebelum menjawab, “Iya. Begini, kamu ingat yang waktu itu Ibu suruh buat puisi?” Melihat Gina mengangguk, Bu Pudji melanjutkan, “Nah, waktu itu semua guru Bahasa sepakat buat nyuruh semua murid kelas 7 sampai 9 untuk menulis puisi. Puisi terbaik dipilih untuk ikut Festival Puisi. Yang terpilih itu punya kamu. Ibu juga udah tempel puisi kamu di mading,” jelas Bu Pudji. “Tapi, Bu, puisi saya jelek. Nanti malah malu-maluin sekolah,” jawab Gina. Kening Bu Pudji berkerut, sebelum berkata, “Ah, nggak. Puisi kamu bagus, kok. Makanya terpilih.” “Tapi, kalau kalah gimana, Bu?” tanya Gina. “Jangan pesimis. Dicoba aja belum. Pikir-pikir dulu aja ya,” bujuk Bu Pudji. Dalam hatinya, beliau berharap Gina menyetujui permintaannya. Menurutnya, Gina memiliki potensi yang bagus dalam dunia puisi. “Ya udah, deh, Bu. Besok saya kasih keputusannya, ya?” tanya Gina. “Oke,” sahut Bu Pudji sambil tersenyum. “Hai, Gin. Ehm… gue lihat, di mading ada puisi lo. Terus, lo disuruh ngewakilin sekolah ikut lomba puisi, ya? Congrats, ya,” kata Chris sepulang sekolah, sambil tersenyum. “Eh, iya. Makasih ya. Tapi, kayaknya, gue gak ikut, deh,” sahut Gina. Chris mengernyit sedikit. “Loh? Emang kenapa? Puisi lo keren, tahu. Tentang sahabat sejati gitu. Dalem banget, lagi, maknanya,” katanya. “Nggak, ah. Gue takut malu-maluin sekolah. Lagian….” “Ya, lo jangan pesimis dulu lah. Dicoba aja belum,” potong Chris. “Gue yakin lo pasti bisa. Semangat, ya,” lanjut Chris sambil tersenyum menyemangati dan menatap mata Gina dalam-dalam. Gina agak salah tingkah dengan tatapan Chris dan akhirnya berkata, “Iya. Thanks, ya.” — “Nah, begitu, dong. Optimis aja! Ibu yakin kamu pasti bisa. Tapi, kalau boleh tahu, apa yang bikin kamu berubah pikiran?” kata Bu Pudji keesokan harinya. Gina tersenyum simpul. “Saya pengen nyoba aja, Bu,” jawabnya. Bu Pudji ikut tersenyum. “Ya, udah. Lombanya minggu depan, ya, hari Rabu, di SMP Nusa Jaya. Jadi, kamu belajarnya cuma dari jam kelima sampai kesembilan. Kamu tahu tempat lombanya?” Gina berpikir sejenak sebelum mengangguk. “Tahu, Bu. Saya ke kelas dulu, ya. Permisi,” katanya sambil pamit ke kelas. — Seminggu kemudian. “Gimana, Gin?” tanya Bu Pudji sekeluarnya Gina dari ruangan lomba. Gina tersenyum dan menjawab, “Baik, Bu. Semoga menang. Tapi, kalau nggak, maaf udah mengecewakan,” jawab Gina. “Iya, gak apa-apa. Yang penting kamu udah usaha,” sahut Bu Pudji. Dua jam kemudian, pemenang lomba tersebut diumumkan. Ternyata, Gina menjadi juara pertamanya. Ia sama sekali tidak menyangka. Dengan gembira, ia maju ke depan untuk mengambil hadiah. Keesokan harinya, Gina melihat foto, nama, dan kelasnya terpampang di mading. Di sana tertulis bahwa ia telah menjuarai Festival Puisi dan Syair, serta mewakili sekolah menuju ke tingkat selanjutnya, yaitu tingkat provinsi. Semua anak dan para guru menyelamatinya, terlebih Chyntia. Ia melompat-lompat dan memeluk Gina dengan heboh. Ia juga menggoda Gina saat Chris datang memberi ucapan selamat. Empat bulan kemudian… “Haduh.. apaan, sih, nih sekolah. Pake ada acara tuker-tukeran cokelat segala. Gak jelas banget, deh! Pake ada program secret admirer segala, lagi! kalau mau PDKT, ya langsung lah! Cupu kalau pake jasa secret admirer. Gak jantan!” omel Chyntia. Gina memutar bola matanya. Ia bosan mendengar keluhan Chyntia soal perayaan valentine di sekolah yang menurut Chyntia gak penting. Saat itu, mereka sedang duduk-duduk di taman sekolah sambil menunggu bel masuk. Mengenai perlombaan yang diikuti Gina, lomba itu sudah selesai. Gina hanya menjadi juara tiga di tingkat provinsi. Jadi, ia tidak berhak untuk mengikuti lomba tingkat nasional. Tapi, Gina tetap senang dan bersyukur. Bisa masuk ke tingkat provinsi aja udah sangat menyenangkan untuknya. Tiba-tiba, Chyntia berkata, “Gin, gue duluan, ya! Mau ke kelas dulu, nih!” “Loh? Kenapa? Ayo, deh,” sahut Gina sambil beranjak bangkit dari kursi taman yang ia duduki. “Eh, eh, eh, gak usah! Lo harus di sini! Awas, kalau ke mana-mana!” ancam Chyntia. Dan sebelum Gina memprotes lagi, Chyntia berlari meninggalkannya sendiri. Gina menatap kepergian sahabat karibnya dengan bingung. “Dasar, edan tuh anak,” gerutunya. Tiba-tiba… “Hai, Gin,” sapa sebuah suara tepat di belakang Gina. Gina menoleh dengan cepat dan melihat Chris berdiri di sana. Dekatnya jarak antar mereka berdua membuat Gina salting. “Eh… hai,” jawab Gina pelan. Chris tersenyum dan berkata, “Chyntia gak edan, kok. Gue yang kasih kode ke dia buat pergi tadi.” “Lah? Emang kenapa?” tanya Gina bingung. Chris terlihat salting. Mukanya merah. “Soalnya… itu…” katanya gagap. Gina mengangkat alis, menunggu kelanjutan kalimat Chris. Nggak biasanya Chris salting begini. Chris menarik napas dalam-dalam, sebelum menatap mata Gina dan melanjutkan, “Gue…. Gue sayang sama lo, Gin. Soalnya, menurut gue lo itu..” Chris terdiam sejenak, lalu melanjutkan, Gue juga gak tahu lo kenapa. Tapi. lo mau, gak, jadi pacar gue? Gina terdiam sejenak. “Gin? Kok diem? Lo… gak mau, ya? Ya, udah, deh,” kata Chris dengan wajah kuyu dan meninggalkan Gina. “Eh, tunggu!” panggil Gina, saat Chris mulai berjalan pergi. Ia berlari kecil menyusul Chris. “Gue belum bilang apa-apa, loh. Emangnya, lo gak penasaran sama jawaban gue?” tanyanya sambil tersenyum. Chris menatapnya bingung. Sebelum ia sempat berkata-kata, ia mendengar Gina berkata, “Gue… gue mau,” dengan suara pelan, lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap Chris. Chris tersenyum dan meraih kedua tangan Gina, lalu menggenggamnya. Ia berbisik, “Thanks.” Wajahnya semakin mendekati wajah Gina. Gina memejamkan matanya. Tiba-tiba… “Cieeeee!!!! Akhirnya kalian resmiiii!! Traktirrrr!!” teriak sebuah suara cempreng, yang muncul dari balik sebuah pohon tak jauh dari tempat Gina dan Chris berdiri. “Chyntia?! Katanya, lo ke kelas!!” seru Gina. Mukanya sangat merah. Sementara, muka Chris juga nggak kalah merahnya. Chyntia cengengesan dan berkata tanpa dosa, “Feeling gue, bakal ada kejadian penting di sini. Makanya, gue sengaja ngintip. Udah, ya, gue mau mewartakan berita sukacita ini ke seluruh sekolah dulu. Dah.. Jangan lupa Traktir,” katanya, lalu berlari meninggalkan Chris dan Gina. Gina dan Chris saling tatap sebelum akhirnya kompak berteriak. “CHYNTIA!!!!!” Cerpen Karangan Dhea Kartika Facebook Dhea Kartika Dhea saat ini berusia 14 tahun. Hobi menulis puisi dan cerpen. Cerpen Menggapai Mimpi merupakan cerita pendek karangan Dhea Kartika, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Dia Oleh Sri Ambar Sejujurnya aku ingin mengatakan apa yang saat ini aku rasakan. Apa yang harus kulakukan ketika diri ini merasakan rasa cinta yang dalam kepada seseorang. Yaitu kakak kelasku yang bernama Me and Devil Oleh Lidya Silaban Hari ini giliran Ino yang kebersihan kelas, dan dibantu dengan teman-teman yang lainnya juga. “Ino, tolong bersihkan penghapus papan tulis itu†kata temannya sambil menunjukan telak penghapus papan tulis. Kenapa Aku Berbeda Part 1 Oleh Zainur Rifky Adzan shubuh berkumandang. Seperti biasanya, Bundaku membangunkanku dengan kasih sayang dan ketegasannya. “Nak, ayo bangun. Sudah Aku pun terbangun dan melihat Bunda dan Kakak sudah siap untuk sholat. Moranica Oleh Alli Nur Magribi Nama aku Ali Alli Nur Magribi. Aku punya temen namanya Andzar, dia tuh baik dan orangnya kalem. Suatu hari dia ngajak aku buat pergi ke toko buku gramedia yang The Relationship Oleh Septiana Azizah Perkenalkan namaku Revita Febrianty, teman-temanku biasanya memanggilku Rere. Aku adalah siswa kelas XI dari SMAN 1 Kotabaru. Aku memiliki dua orang sahabat, yaitu Lala, Dina dan Eky. Merekalah teman-teman “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?†"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
83% found this document useful 24 votes84K views35 pagesDescriptionKumpulan Cerpen Putu WijayaCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsPDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?83% found this document useful 24 votes84K views35 pagesKumpulan Cerpen Putu Wijaya You're Reading a Free Preview Pages 7 to 16 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 20 to 22 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 26 to 32 are not shown in this preview.
Putu Wijaya, begitu nama yang lebih sering didengar oleh telinga. Sastrawan Indonesia yang sudah berusia 76 tahun ini memiliki nama asli I Gusti Ngurah Taksu Wijaya. Ya, dari namanya sudah terlihat bahwa ia berasal dari Bali. Lahir dan besar di Tabanan, Bali lebih tepatnya, Putu Wijaya sudah memiliki hobi membaca buku sejak kecil. Ia sangat tertarik dalam dunia sastra. Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, cerita pendek berjudul Etsa yang ditulisnya berhasil dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali. Beranjak ke Sekolah Menengah Atas, ia mencoba hal baru yaitu mengikuti pementasan drama di sekolahnya. Setelah menyelesaikan SMA-nya di Bali, Putu Wijaya merantau ke Jogja, Kota Seni dan Budaya, untuk melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Ketertarikannya pada sastra dan seni yang dalam mendorongnya untuk belajar seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia ASRI. Selain itu, ia juga menyambi di Akademi Seni Drama dan Film ASDRAFI untuk menekuni seni drama. Tak hanya itu, di kota itu juga ia turut serta dalam Bengkel Teater yang diasuh oleh W. S. Rendra, seorang sastrawan yang namanya sudah besar di Indonesia. Putu Wijaya memutuskan untuk pergi ke Jakarta setelah mendapatkan gelar sarjana hukumnya pada tahun 1969. Di Jakarta, ia bergabung dengan Teater Kecil dan Teater Populer sembari bekerja di majalah Tempo sebagai redaktur. Lama bekerja di sana, Putu Wijaya mendirikan Teater Mandiri bersama rekan-rekan kerjanya pada tahun 1974. Karya-karya Putu Wijaya. Sebagai seorang sastrawan serta dramawan, Putu Wijaya sudah banyak mengeluarkan karya-karya yang tak terhitung jumlahnya. Berpuluh-puluh novel dan naskah drama, ratusan esai, serta ribuan cerita pendek sudah ditulis Putu Wijaya sejak ia masuk dalam dunia sastra. Beberapa novel yang telah beliau tulis antara lain Keok, Tiba-Tiba Malam, dan Dar Der Dor. Tak lupa ia juga telah mementaskan puluhan teater di dalam maupun luar negeri. Salah satunya yaitu naskah Aum Roar yang dipentaskan di Madison, Connecticut, Amerika Serikat. Putu Wijaya juga tidak jarang ikut mementaskan naskah drama yang ia tulis sendiri. Salah satunya yaitu naskah drama yang berjudul Lautan Bernyanyi pada tahun 1969. Cerpen Guru karya Putu Wijaya. Saat saya mencari-cari cerpen untuk dibaca, saya berhenti pada satu cerpen berjudul Guru karya Putu Wijaya. Mungkin bagi sebagian orang judul ini tidak menarik mata. Tapi, entah mengapa saya memutuskan untuk membacanya. Cerpen ini mengisahkan seorang bapak yang resah dan marah akan keinginan anaknya, Taksu. Bapak ini tidak senang bahwa Taksu bercita-cita menjadi guru. Menurutnya, guru merupakan pekerjaan yang tak memiliki masa depan, guru merupakan pekerjaan bagi orang yang gagal. Ia telah mencoba segala cara, seperti membelikan mobil untuk Taksu agar Taksu berubah pikiran untuk tidak bercita-cita sebagai guru lagi. Namun, usahanya gagal. Taksu tetap teguh bahwa ia ingin menjadi guru, tak peduli apa yang bapaknya katakan. Cerpen ini berakhir 10 tahun kemudian, sang bapak sudah tak lagi resah dan marah. Taksu telah menjadi guru. Guru bagi anak muda, bangsa, dan negara karena telah menularkan etos kerja. Setelah selesai membaca cerpen Guru ini saya menyadari suatu hal. Bahwa di era sekarang, profesi guru masih kerap dipandang sebelah mata. Masih banyak orang seperti tokoh "bapak" pada cerpen Putu Wijaya ini dalam dunia nyata. Orang-orang yang menganggap bahwa guru bukanlah profesi yang patut diidamkan. Melalui cerpen ini saya dapat mengambil suatu pesan. Jika memiliki mimpi untuk masa depan, kita harus fokus terhadap mimpi tersebut dan tak menghiraukan segala perkataan negatif yang dilontarkan orang lain. Karena pada akhirnya, kita yang akan menjalani hidup kita sendiri, bukan mereka. Jika berhasil menggapai mimpi yang kita punya, orang lain dengan sendirinya akan menyadari kemampuan kita. Menurut saya, cerpen Putu Wijaya ini merupakan cerpen yang patut diacungi jempol. Melalui cerpen ini ia menceritakan hal yang nyata adanya di kehidupan masyarakat.
Cerpen Karya Putu Wijaya. Putu wijaya merupakan salah satu cerpenis terkemuka bangsa indonesia. Putu wijaya, begitu nama yang lebih sering didengar oleh telinga. Cerpen Guru karya Putu Wijaya from Dari namanya ini dapat diketahui bahwa ia berasal dari keturunan bangsawan. Di hadapan sekitar tiga ratus mahasiswa di hunter college, new york, wayan harus bercerita tentang bali. Ia lahir tanggal 11 april 1944 di puri anom, tabanan, bali. Terpesona, Karena Waktu Tak Mau Cerpen Keadilan Karya Putu Guru Karya Putu Wijaya.“Akhir Tahun Membawa Banyak Hal Yang Memandang Takjub Pada Anak Yang Di Luar Pengamatannya Sudah Menjadi Gadis Jelita Itu. Terpesona, Karena Waktu Tak Mau Menunggu. Jumlah itu bertambah hingga dua kali lipat, yaitu menjadi lebih dari cerpen pada tahun 2014. Memandangi koran, melahap foto doktor termuda indonesia i gusti ayu diah werdhi srikandi ws, 27 tahun, mataku tidak berkedip. Putu wijaya merupakan salah satu cerpenis terkemuka bangsa indonesia. Menganalisis Cerpen Keadilan Karya Putu Wijaya. Tapi biasanya, setelah datang, ternyata juga sama. “kalau aku masih muda, aku akan datang kepadamu dan langsung melamar.”. Sastrawan indonesia yang sudah berusia 76 tahun ini memiliki nama asli i gusti ngurah taksu wijaya. Cerpen Guru Karya Putu Wijaya. Analisis cerpen guru karya putu wijaya. Saya sebagai bapak menasehati taksu, namun ia tetap pada keinginannya menjadi seorang guru. Seorang pengusaha muda indonesia mestinya dia menjadi anggota hipmi mencoba merebut peluang dengan gayanya yang sangat khas. “Akhir Tahun Membawa Banyak Hal Yang Sama. Cerpen cintaku jauh di komodo* karya seno gumira ajidarma Nama lengkapnya adalah i gusti ngurah putu wijaya. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Ia Memandang Takjub Pada Anak Yang Di Luar Pengamatannya Sudah Menjadi Gadis Jelita Itu. Cerpen karya putu wijaya pendet “ini bukan hanya masalah tari pendet. Putu wijaya, begitu nama yang lebih sering didengar oleh telinga. Ibu, lelaki sejati itu seperti apa?
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Putu Wijaya sudah tidak diragukan lagi dalam kazanah kesusastraan Indonesia. Karyanya banyak berkontribusi dalam bidang sastra. Puluhan novel, ribuan cerpen, dan esai sudah ia tulis mengisi ruang intelejensi. Putu Wijaya begitu getol dalam menulis, seakan tidak pernah kehabisan bensin. Tidak hanya piawai menulis, beliau juga begitu pandai melontarkan kritik. Hampir semua karya-karyanya berisi pesan sarat makna mengenai fenomena yang terjadi. Di usia senjanya kini, Putu masih tetap menulis. Produktivitas beliau tidak surut meski dalam kondisi sekian banyak karya Putu Wijaya, cerpennya yang berjudul Valentine dan Mayat menarik untuk dibaca. Karya Putu identik dengan kritik dan satir, serta memiliki corak “arus kesadaran” dan “absurd”. Bukan cerita yang jadi poin utama dalam setiap karya Putu, melainkan pesan yang hendak disampaikan. Cerita dalam karya Putu bisa dikatakan hanya sebagai perantara pesan moral tersebut. Cerpen Valentine’ dan Mayat’, selain ceritanya menarik, unsur pesannya pun begitu Valentine’ menceritakan seorang Pak Amat yang mengkiritik anaknya yang ikut-ikutan acara valentine. Pak Amat berpikir kalau itu bukan budayanya mereka. Setelahnya, Pak Amat pergi hendak cari makan dan bertemu dengan tukang sate langganannya. Tapi, tukang sate tersebut mengajak Pak Amat ke rumah Yuk Lee yang menggelar acara syukuran. Yuk Lee sendiri adalah seorang keturunan Tionghoa. Tidak terasa, Pak Amat larut dalam acara tersebut. Selain makan puas, Pak Amat pun mendapat amplop yang berisi uang. Setelah di rumah, Pak Amat justru memberi uang kepada anaknya untuk memberli baju untuk acara valentine, tapi semuanya sudah kadung terlambat. Dari ringkasan cerita di atas, terlihat bahwa sifat yang digambarkan pada Pak Amat adalah hipokrit. Pak Amat yang sedari awal mengkritik valentine, yang mengatakan itu bukan budaya mereka, justru malah berpartispasi dalam acara syukurannya Yuk Lee yang notabene seorang Tionghoa. Sikap munafik’ pada tokoh Pak Amat diceritakan dengan menggelitik. Bila dicermati, cerpen tersebut membuka arus kesadaran, bahwa sikap hipokrit itu ada pada setiap individu. Hipokrit juga sekiranya mengandung unsur kebohongan seperti misalnya saat makan dan dibayar oleh teman, tapi kita menolak karena merasa tidak enak. Padahal kalau tidak menolak, uang kita pasti masih utuh. Kadang hipokrit itu justru merugikan kita sendiri. Arus kesadaran terkandung dalam cerpen Valentine’, memperjelas kesadaran bahwa kita pun pernah bersikap seperti tokoh Pak Amat. Walaupun masih dalam skala kecil, tapi sifat dan sikap sepertinya itu memang murni dimiliki setiap orang. Pesannya adalah, boleh-boleh saja berlaku hipokrit, asal tidak ketahuan dan merugikan pihak dalam Karya Putu WijayaCiri Khas Putu Wijaya dalam karya-karyanya salah satunya adalah absurditas. Cerita absurd tergolong sulit diterima akal sehat. Hal-hal di luar nalar manusia kadang menjadi santapan empuk bagi Putu. Boleh dikatakan, lewat keabsurdan itu Putu lebih mudah menyampaikan pesan dalam ceritanya. Sekali lagi, dalam karya Putu, pesan yang utama, cerita nomor sekian. Seperti dalam cerpen berjudul Mayat’ yang memberi kesadaran kepada kita alangkah bijaknya kalau bisa Mayat’ menceritakan mayat yang bangkit dari kubur. Hendak membalaskan dendam kepada orang-orang yang hidup senang dengan memanfaatkannya. Ketika itu juga mayat tersebut datang ke kantor media dan menuliskan uneg-uneg di komputer. Lalu datang penjaga malam yang berjaga menghampiri mayat tersebut. Lalu mereka berdua bercerita tentang masing-masing, dan penjaga malam itu ternyata juga adalah mayat. Tetapi, kondisi penjaga malam itu lebih parah ketimbang mayat yang mengeluh itu. Penjaga malam itu malahan tidak mendapat tempat yang layak, dalam hal ini tidak dikubur sewajarnya. Lain halnya dengan mayat yang sudah dikubur dan mendapat tempat yang layak. Apalagi hal yang tidak bisa diterima mayat itu bahwa ada yang menderita daripadanya? Dari cerpen tersebut, pesan yang ingin disampaikan Putu adalah kita harus beryukur dengan apa yang sudah kita dapatkan. Walaupun dirasakan kurang, tapi ada yang masih berada di bawah kita. Jangan menutup mata dan pikiran akan kebenaran yang terjadi. Dunia bukan ajang untuk memamerkan kegelapan cara pandang. Di atas langit masih ada langit, jadi beryukurlah dengan apa yang sudah dimiliki. Tokoh mayat dijadikan ilustrasi sebagai alusi bahwa hal yang ada saat ini toh tidak dibawa sampai kedua cerpen karya Putu Wijaya ini tidak jauh dari pesan moral kita sebagai makhluk sosial. Manusia dengan individunya yang subjektif, kadang dituntut untuk bersikap objektif. Banyak dari manusia itu sendiri tidak menyadari apa yang telah dijalani, tapi menuntut ke sana ke mari seolah merasa tidak diadili. Begitu pun dengan sifat hipokrit kita yang kerap menimbulkan perselisihan dan beda pendapat. Kadang masalah pribadi dilibatkan ke orang lain seolah tidak ingin sendiri merasakan penderitaan. Cerpen Valentine jelas terlihat sikap Pak Amat yang bisa dibilang menelan ludahnya sendiri. Begitu pun cerpen Mayat yang membuka kesadaran bahwa masih ada yang lebih malang dari adalah makhluk yang tidak pernah puas. Selama masih punya pedal gas, pedal rem pun kadang dilupakan. Dua komponen vital yang mesti bersinergi dan berkesinambungan. Alangkah bijaknya kalau kita sebagai manusia tidak hanya berpikir bagaimana caranya maju, tetapi juga berhati-hati, dan tahu kapan harus berhenti. Lihat Cerpen Selengkapnya
cerpen mimpi karya putu wijaya