cerita singkat tentang sopan santun

BelajarIslam yang Santun dari Kisah Nabi Muhammad. PEREBUTAN atas siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad saat membangun kembali Kabah, juga tentang hukuman bagi pezina yang berada di luar umatnya, menghadirkan Muhammad sebagai seseorang yang dipercaya sebagai penengah situasi. Tak serta-merta beliau bersikap egois karena dipilih sebagai Sopansantun, atau juga dikenal sebagai tata krama, merupakan salah satu ciri khas dari masyarakat Indonesia. Sejak dahulu, bangsa Indonesia dikenal dengan keramahannya, kesopanannya, serta adat istiadat yg dijunjung tinggi. Namun, apabila kita berkaca pada kehidupan bangsa saat ini, sungguh ironis sekali dimana banyak sekali pergeseran yang PostingKomentar untuk " 2 Cerita Pendek Tentang Sampah Singkat " Postingan Lebih Baru Postingan Lama Postingan Terbaru. Juni 2021 (28) Mei 2021 (16) April 2021 (29) Maret 2021 15 Pantun Serah Terima Pengantin Santun dan Lucu 5 Kisah Nyata Cerita Cinta Penuh Dosa 15 Pantun Ngopi Gokil dan Menghibur 4 Cerita Cinta Kamar Hotel yang Mantap Danke Dass Wir Dich Kennenlernen Durften. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Cerita sebelumnya 1. KISAH FIRA MUNGIL 1 SURI TAULADAN 2. KISAH FIRA MUNGIL 2 KASIH SAYANG 3. KISAH FIRA MUNGIL 3 JUJUR Fira anak kecil berumur 4 tahun itu kini sedang asyik bersama mamahnya. Terlihat ada buku yang penuh gambar disana. Fira sedang belajar membaca bersama mamahnya. Mamah Anna sengaja berada di rumahnya pagi ini, karena Mamah memang tidak ada agenda hari itu. Papah Arie berada di ruang tamu menemani teman kantornya, nampaknya ada keperluan. Di ruang baca, mamah Anna mengajari Fira membaca. Dia mengajari satu persatu kata yang ada di buku itu. Dia sangat sabar sekali. “Ini Budi, Ini Bapak Budi” “Ini Bu.. Di.. Ini Bapak Bu.. Di” sahut Fira. “Mamah, Budi siapa si mah.. ko ada di Buku?” tanya Fira. Mamah tersenyum menatap anaknya berkata demikian. “Sayang, Budi itu adalah Be uu de ii” jawab mamahnya sambil tertawa. Fira tersenyum juga terliat giginya. “Ayo sayang, lanjut ke halaman selanjutnya!” Mamah menyuruh Fira. Fira pun membuka halaman baru. Fira memperhatikan sesuatu. Tampaknya dia penasaran setelah membuka halaman ini. “Mah, Budi cium tangan sama papahnya!!” Fira melihat gambar itu. “Budi sayang banget ya sama papahnya!” Fira sambil melamun. Mamah teringat kejadian kemarin pertemuan dengan pak Andi dan anaknya Detha, Fira meniru Detha mencium tangannya, dan Fira juga mencium tangan papahnya. Mamah kemudian mengelus rambut Fira yang hitam. Fira terlihat senang saat orang tuanya mengelus rambutnya. Mamah menceritakan sesuatu. “Sayang, Budi itu sopan sama papahnya” Fira mendengarkannya. “Sopan itu adalah sikap terpuji” Fira mengangguk tampaknya dia paham. Fira kemudian membuka halaman lagi. Fira melihat Budi melewati papahnya dengan merunduk. Dia mengangguk untuk kedua kalinya. “Fira,,,,, Fira,,,,, ” terdengar ada suara anak kecil dari pintu depan. Fira meninggalkan mamahnya. Dia menuju pintu depan. Mamah berjalan dibelakang Fira. Belum sampai pintu depan, anak kecil itu menuju Fira yang masih berada di ujung ruang tamu. “Heh, gk boleh!!!!” Fira sedikit berteriak. Papah Arie dan temannya yang dari tadi berada diruang tamu berpindah perhatian ke Fira. “Kata mamah, kalau mau masuk harus ijin dulu!!” Mamah yang berjalan di belakang Fira tampaknya kaget. “Eh, iya..” jawab Dede. Teman Fira, Anak Bu Rahma yang mengambil bunga Fira kemarin. “Dede, masuk aja de.. “ mamah Fira kemudian menyuruh dede masuk. Dede kemudian masuk dan melewati papah Arie dan temannya. “DEDE!!!!!!!!!! Gk boleh gitu....” Fira berteriak. Dede nampaknya kaget dengan ucapaan Fira yang keras. Fira kemudian menyuruh dede kembali ke pintu depan dan Fira menyusulnya. Fira nampaknya melakukan sesuatu dan Dede menirunya. Fira dan Dede merunduk melewati papah Arie dan temannya. Fira mempraktekkan yang ada di gambar bukunya persis. Mamah Anna, Papah Arie dan temannya kaget. Mamah tertawa. “Fira, kamu ada-ada aja!” “Jangan galak2 sayang!” Mamah menasehatinya. Papah Arie menuju mamah, tampaknya bertanya sesuatu. Setelah itu, Papah Arie menuju temannya dan bercerita kalau anaknya tadi membaca buku yang diajarkan Mamah Anna. Papah Arie dan temannya tertawa.... ***** Fira kemudian menyuruh Dede masuk ke ruang tengah. Dede nampaknya membutuhkan Fira. Dede matanya berkaca-kaca. Nampaknya, dia mau menangis. Ada sesuatu yang terjadi. *Bersambung. Created By Azmi Azhari =================================================================== Sumber Gambar mampir ya ke blogku 1. kehidupan 2. Fiksi Lihat Puisi Selengkapnya Seorang pensiunan guru berjalan menuju kasir di K-Mart, supermarket yang lumayan terkenal di kota itu. Kaki kirinya terasa sakit, ia berharap tidak lupa untuk meminum semua pilnya tadi pagi. Satu pil untuk tekanan darah tinggi, satu pil untuk pusing-pusing, dan satu pil lagi untuk penyakit rematiknya yang kadang kambuh. ?Syukurlah aku telah pensiun beberapa tahun lalu? katanya kepada diri sendiri. ?Masihkah aku kuat mengajar anak-anak sekarang ?? Begitu tiba di depan antrian kasir yang penuh, ia melihat seorang lelaki dengan empat orang anak beserta istrinya yang hamil. Mantan guru itu tidak dapat melepaskan pandangannya dari tato di leher orang itu. ?Pasti ia pernah dipenjara?, pikirnya. Ia terus memperhatikan penampilan pria itu. Dari cara pria itu berpakaian, mantan guru itu berkesimpulan bahwa ia adalah seorang anggota geng. Mata pensiunan tua itu tambah terperanjat ketika melihat kalung yang dikenakannya, bertuliskan ?Parlson? ? pasti ini adalah nama orang itu. Parlson dikenal sebagai kepala geng di daerah itu, tidak ada satupun orang yang berani padanya. Ia dikenal sebagai oran ... baca selengkapnya di Sopan Santun Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 loading... CERITA TENTANG SOPAN SANTUNSeorang pensiunan guru berjalan menuju kasir di K-Mart, supermarket yang lumayan terkenal di kota itu. Kaki kirinya terasa sakit, ia berharap tidak lupa untuk meminum semua pilnya tadi pagi. Satu pil untuk tekanan darah tinggi, satu pil untuk pusing-pusing, dan satu pil lagi untuk penyakit rematiknya yang kadang kambuh.“Syukurlah aku telah pensiun beberapa tahun lalu” katanya kepada diri sendiri. “Masihkah aku kuat mengajar anak-anak sekarang ?”Begitu tiba di depan antrian kasir yang penuh, ia melihat seorang lelaki dengan empat orang anak beserta istrinya yang hamil. Mantan guru itu tidak dapat melepaskan pandangannya dari tato di leher orang itu. “Pasti ia pernah dipenjara”, terus memperhatikan penampilan pria itu. Dari cara pria itu berpakaian, mantan guru itu berkesimpulan bahwa ia adalah seorang anggota geng. Mata pensiunan tua itu tambah terperanjat ketika melihat kalung yang dikenakannya, bertuliskan “Parlson” – pasti ini adalah nama orang itu. Parlson dikenal sebagai kepala geng di daerah itu, tidak ada satupun orang yang berani padanya. Ia dikenal sebagai orang yang tidak Parlson datang ke rombongan antrian, spontan orang-orang menyediakan tempat kepada dia untuk antri terlebih dulu. Setelah Parlson hampir tiba di antrian terdepan, matanya tertuju pada mantan guru itu.“Silahkan Anda lebih dulu” mantan guru itu berkata.“Tidak, Anda yang harus lebih dulu..” balas lelaki itu.“Tidak, anda membawa istri dan banyak anak, anda harus antri lebih dulu” kata mantan guru itu kepada Parlson.“Kami sangat menghormati orang tua..” tegas lelaki itu. Dan bersamaan dengan itu, dengan gerak tangannya yang sangat sopan, ia menyilahkan wanita tua itu untuk mengambil tempat senyum tergurat pada bibirnya ketika sang mantan guru lewat di depan lelaki itu. Tetapi sebagai seorang yang berjiwa guru, ia tidak dapat melewatkan kejadian istimewa ini begitu saja. Mantan guru itu lalu berpaling ke belakang.“Anda sopan sekali.. terima kasih, siapa yang mengajarkan ini kepada Anda ?”Dengan sikap yang sangat hormat, lelaki itu berkata, “Tentu saja Anda, Ibu Simpson, sewaktu saya masih kelas tiga dulu.”Lelaki itu kemudian mengambil sikap menunduk dengan hormat – lalu pergi menuju antrian yang paling belakang.Dari “The Babyflight” oleh Paul Karrerloading... Sebagai orangtua, tentu kita ingin si kecil tumbuh menjadi pribadi yang baik. Sopan santun adalah salah satu bekal utama yang harus kita miliki dalam kehidupan, dan sebaiknya diajarkan sedini mungkin kepada anak. Di zaman yang serba cepat dan canggih ini, mengajari anak-anak sopan santun sangat penting. Orangtua diharapkan dapat membantu buah hati mereka untuk mengembangkan keterampilan sosialnya dengan cara berinteraksi dan memperlakukan orang lain secara hormat. Berikut adalah cara-cara yang bisa Parents coba untuk mengajarkan sopan santun kepada anak. Artikel Terkait Kapan Harus Mulai Mendidik Anak Tentang Sopan Santun? 1. Berikan Contoh yang Nyata Anak-anak adalah peniru yang ulung. Jika Parents mengharapkan si kecil memiliki sikap sopan santun yang baik, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah memberikannya contoh yang nyata. Anak harus melihat sendiri bagaimana kita mencontohkan bersikap sopan kepada orang lain, termasuk pada dirinya sendiri. Perhatikan bagaimana cara Parents berinteraksi, baik dengan pasangan, keluarga, teman, hingga orang yang tak dikenal. Jika si kecil sudah terbiasa melihat Parents berperilaku sopan, ia pun akan mencontohnya. 2. Mulai sedari Dini Hindari mengabaikan perilaku yang tak baik hanya karena si kecil masih anak-anak. Namanya juga anak-anak’ sering kali digunakan para orangtua ketika anak mereka berbuat tidak sopan, tetapi faktanya hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan. Anak-anak perlu diajari sopan santun sedini mungkin. Ketika anak sudah mulai bisa memahami instruksi atau kata-kata sederhana, ambil contoh misalnya pada usia satu setengah tahun, mulailah untuk mengajarinya sopan santun. Etika dasar seperti kata tolong’, terima kasih’, dan maaf’ adalah hal yang wajib dipelajari sejak dini. Parents juga bisa membimbingnya untuk berlaku sopan kepada yang lebih tua, berbagi mainan dengan teman sebayanya, dan ajari mengenai pentingnya empati. Artikel Terkait 4 Tips Mengatasi Sikap Anak yang Tidak Sopan di Tempat Umum 3. Sesuaikan dengan Usia Ajarkan sopan santun kepada anak bertahap, sesuai dengan usianya. Tentu mengajarkan sopan santun kepada anak usia balita dan usia sekolah adalah dua hal yang berbeda. Pastikan anak sudah menguasai dasar-dasar etika seperti cara meminta tolong, meminta maaf, dan berterima kasih. Jika anak sudah beranjak besar, Parents mulai bisa mengenalkannya terhadap hal-hal yang lebih kompleks. Misalnya etika ketika bertamu, cara menulis pesan yang baik, menelepon dengan sopan, hingga table manners, dan lain sebagainya. Mengutip dari laman Very Well Family, apabila Parents memberi anak terlalu banyak hal untuk dipelajari, bisa saja ia merasa kewalahan. Oleh karena itu, sebaiknya fokus pada satu hal saja hingga ia benar-benar menguasainya 4. Jadikan Kebiasaan Pepatah bisa karena biasa berkaitan erat dengan etika dan sopan santun. Jika anak tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan perilaku sopan santun sebagai kebiasaan, maka ia pun akan tumbuh menjadi pribadi yang santun pula. Jika anak melakukan sesuatu hal yang Parents dan keluarga anggap tidak pantas, hindari mengomelinya panjang lebar. Sebaiknya, berikan alasan yang mudah diterima olehnya mengapa perilaku tersebut tidak pantas untuk dilakukan. Anak-anak akan lebih mudah mengingat tata krama dan aturan tertentu jika diberikan penjelasan singkat tentang mengapa suatu perilaku dianggap tidak sopan. Sebagai contohnya, jika si kecil berbicara dengan mulut penuh makanan, Parents bisa menjelaskan bahwa hal itu tidak baik karena bisa saja anak tersedak makanan di mulutnya. Beri tahu pula bahwa hal tersebut tak sesuai dengan tata krama. 5. Ajarkan dengan Permainan Bermain peran dapat menjadi kesempatan untuk melatih anak berperilaku sopan. Buat sebuah situasi di mana anak harus berperilaku sopan, misalnya bermain peran belanja di supermarket. Parents bisa mengajarkan cara meminta tolong yang baik, misalnya mengambilkan barang-barang. Setelah itu, beritahu agar jangan lupa berterima kasih jika mendapatkan bantuan. Bantu pula anak mempraktikkan cara menanggapi hal-hal yang tidak disukainya, tetapi dengan tetap sopan. Melalui bermain peran, Parents bisa memberikan contoh nyata dan mendukung si kecil untuk berperilaku sopan dan hormat dalam berbagai situasi. Artikel Terkait Mengapa Anak Bersikap Tidak Sopan pada Orangtua? Ini 5 Penyebabnya 6. Berikan Pujian yang Spesifik Pujilah anak jika ia berhasil menerapkan sopan santun dalam kesehariannya. Beritahu pula mengapa ia pantas mendapatkan pujian tersebut, misalnya Adek hebat karena sudah ingat mengucapkan terima kasih setelah dibantu’ atau Adek pintar, ya, minta tolongnya baik dan sopan’. Anak yang lebih besar atau sensitif mungkin terkadang merasa malu ketika dipuji di depan umum atau banyak orang. Jika seperti ini, lakukan percakapan pribadi tentang bagaimana Parents menghargai perilaku sopan yang ia tunjukkan. 7. Libatkan Anak dalam Berbagai Kesempatan Anak akan lebih mudah memelajari sesuatu jika ia mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam melatih anak untuk berlaku sopan, libatkanlah anak dalam berbagai kesempatan. Misalnya ketika sedang berada di restoran, dukung ia untuk berterima kasih kepada pelayan yang sudah membantunya memesan makanan atau mengambilkan kursinya. Mengajari sopan santun kepada anak memang harus dibarengi dengan konsistensi dan perjalanan yang panjang. Selalu ingatkan anak untuk berperilaku sopan di setiap kesempatan ketika Parents mendampingnya. Semoga informasi ini dapat bermanfaat. Baca Juga 12 Sikap baik dan santun yang wajib dipelajari anak sejak usia 2 tahun 6 Cara Mengajarkan Etika Bertamu pada Anak Mengajarkan Etika di Meja Makan untuk Anak Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android. Belajar Sopan Santun dan Rendah Hati dari Ali bin Abi Thalib Suatu ketika menjelang subuh, seorang sahabat dekat Rasulullah SAW bergegas menuju masjid hendak menjalankan sholat berjamaah. Beliau adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ali berangkat dengan begitu semangat hingga ada suatu hal yang membuat langkahnya seorang wanita tua berjalan di depan beliau. Karena rasa ta’dzim penghormatan Sayyidina Ali kepada orang tua, beliau tidak berani untuk mendahului langkah wanita tua tersebut. Hal ini membuat langkah beliau menjadi sangat Ali khawatir tidak mendapatkan jama’ah bersama Rasulullah SAW, namun beliau juga tidak ingin mengurangi rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Sesampainya di depan masjid, wanita tersebut tidak langsung wanita tua tersebut adalah orang Nasrani. Tanpa berpikir panjang, Sayyidina Ali langsung masuk masjid dan mendapati Rasulullah SAW masih dalam keadaan ruku’.Para jamaah pada saat itu keheranan karena Rasulullah SAW melakukan ruku’ dengan sangat lama. Setelah selesai sholat, para sahabat menanyakan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau memanjangkan ruku’ pada sholat ini?”Rasulullah SAW menjawab, “Ketika aku melakukan ruku’ dan membaca bacaan seperti biasanya سبحان ربي العظيم, aku ingin mengangkat kepalaku. Namun Jibril datang kepadaku dan meletakkan sayap diatas punggungku sehingga aku tak bisa mengangkat kepalaku. Tatkala Jibril melepaskan sayapnya, aku baru bisa mengangkat kepalaku.”Para sahabat terheran dan menanyakan, “Mengapa Jibril melakukan itu wahai Rasul?” Rasulullah SAW menjawab, “Aku tidak tau, aku tidak menanyakan kepadanya.”Kemudian Jibril datang dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali hendak datang mengikuti sholat berjama’ah bersamamu. Namun ditengah jalan ia bertemu dengan wanita tua. Ia menghormatinya kerena ubannya dan tak berani mendahuluinya. Kemudian Allah SWT memerintahkanku untuk memeganggi punggungmu saat ruku’ agar Ali mendapati jama’ah bersamamu. Allah SWT juga memerintahkan Mikail untuk memeganggi matahari agar tidak terbit karena penghormatan Ali RA kepada orang yang tua”Begitulah kisah teladan yang dicontohkan Sayyidina Ali RA. Beliau memberi penghormatan kepada orang yang lebih tua, walaupun beda agama. Semangat beliau dalam mengikuti sholat berjamaah juga menjadi teladan untuk kita semua. Semoga kita dapat meniru akhlak terpuji para rasul, sahabat, dan a’lam

cerita singkat tentang sopan santun